Thursday, September 29, 2022
spot_img
spot_img

Aviliani: Pemerintah Harus Bisa Beri Paham Soal Naiknya Harga BBM

Depok, Aktualiti.com – Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menilai pemerintah harus bisa beri paham soal naiknya harga BBM kepada Masyarakat.

Aviliani menyampaikan hal tersebut dalam Rilis Survei Nasional LSI bertema Kondisi Ekonomi dan Peta Politik Menjelang 2024.

“Wajar saja masyarakat tidak sepakat naik, persoalan di belakang itu, masyarakat tidak mau tahu. Oleh karena itu, pemerintah perlu menyampaikan hal-hal yang berkaitan, kenapa BBM naik,” ujarnya dikutip dari Antara, Minggu (4/9/2022).

Baca Juga : Tiga Negara Sukses Jaga Harga BBM di Bawah Rp 800/liter

Aviliani memahami keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM, yaitu karena anggaran subsidi BBM yang terus membengkak, utamanya karena ada supply shock akibat perang Rusia-Ukraina.

Pemerintah dalam asumsi makro APBN 2022 sudah menetapkan harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar 80 dolar AS. Namun, perang membuat suplai BBM tersendat dan membuat harganya meroket hingga 105 dolar AS.

“Sehingga mau tidak mau harga BBM itu harus naik. Apalagi kebijakan pemerintah tentang harga minyak itu sebenarnya tidak disubsidi lagi, jadi akan naik dan turun sesuai harga minyak dunia dimana kita tidak miliki sendiri,” katanya.

Sementara itu, soal naiknya harga BBM juga dinilai tak dapatdihindari sebab 80 persen yang menggunakannya adalah mereka yang tidak membutuhkan. Ia menyebut industri juga masih banyak menggunakan BBM bersubsidi, begitu juga rumah tangga mampu.

Lebih lanjut, Aviliani mengakui kemungkinan inflasi akan naik akibat kenaikan harga BBM. Oleh karena itu, pemerintah perlu menjaga pasokan pangan agar jangan sampai menimbulkan kenaikan harga yang tidak wajar.

Memang, masalah BBM hampir selalu terjadi setiap pemerintahan. Tapi ia mengingatkan pemerintah soal Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang belum ditangani secara baik.

“Untuk menangani hal ini kita harus mempersiapkan diri untuk mengarah ke EBT atau pindah ke gas, atau ke mikrohidro yang sekarang sudah dikembangkan tapi belum tertangani dengan baik karena dianggap skalanya masih kecil,” ungkapnya. (Antara)

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini