Saturday, October 1, 2022
spot_img
spot_img

BI Umumkan GWM Naik secara Bertahap Mulai 1 Juni, Apa Itu?

Jakarta – Aktualiti.com, Merespon tren peningkatan inflasi yang terjadi secara global disebabkan tingginya tekanan dari ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina, Bank Indonesia (BI) melakukan Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Jakarta pada Senin – Selasa, 23 – 24 Mei 2022. Rapat tersebut diselenggarakan dalam rangka pengendalian inflasi, menjaga stabilitas nilai tukar, serta tetap mendorong pertumbuhan ekonomi.

Ada hal menarik yang dihasilkan melalui RDG baru-baru ini. Menurut laporan yang didapatkan dalam tinjauan Kebijakan Moneter Mei 2022, BI menerapkan kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM) rupiah secara bertahap. Kebijakan tersebut diterapkan dalam rangka percepatan normalisasi kebijakan likuiditas.

Kenaikan secara bertahap pada GWM ditetapkan sebesar 1 Juni 2022 sebesar 6 persen, kemudian 7,5 persen mulai 1 Juli 2022, dan 9 persen mulai 1 September 2022 untuk Bank Umum Konvensional (BUK) atau naik secara bertahap dari yang sebelumnya hanya 5 persen.

Sedangkan untuk Bank Umum Syariah (BUS) besaran GWM primer mulai 1 juni 2022 sebesar 4,5 persen, 6 persen mulai 1 Juli 2022, dan 7,5 persen mulai 1 September 2022 atau naik secara bertahap dari yang sebelumnya hanya 4 persen.

Lalu, apa yang dimaksud dengan Giro Wajib Minimum (GWM), dikutip dari sikapiuangmuOJK:

GWM adalah Instrumen Moneter atau makroprudensial dalam bentuk dana atau simpanan minimum yang wajib disimpan atau dipelihara oleh perbankan dalam bentuk rekening giro di BI. Besaran simpanan tersebut berupa rasio persentase yang ditentukan oleh BI berdasarkan jumlah dana pihak ketiga (DPK).

Misalkan, ada suatu bank, sebut saja namanya Bank Jos memiliki DPK 75 Triliun, apabila BI menetapkan GWM sebesar 6 persen maka Bank Jos harus menyetorkan simpanan di BI sebesar 4,5 Triliun atau 6 persen dari 75 Triliun. Artinya, total DP dari Bank Jos yang bisa disalurkan ke debitur hanya 70,5 Triliun dalam bentuk kredit ataupun produk lainnya.

GWM mempunyai 3 jenis, antara lain GWM primer yakni simpanan minimum (rupiah) yang wajib dipelihara oleh bank dalam rekening giro di BI yang besarannya ditetapkan dalam rasio terhadap dana pihak ketiga yang dihimpun perbankan. GWM primer inilah yang naik secara bertahap seperti yang tertulis di satas.

Kedua, GWM sekunder, yakni cadangan minimum (rupiah) yang wajib dipelihara oleh bank berupa surat berharga, seperti Sertifikat Bank Indonesia, Sertifikat Deposito Bank Indonesia, dan Surat Berharga Negara).

Kebijakan GWM sekunder ditujukan untuk mempengaruhi cadangan likuiditas bank sekaligus pendalaman sektor keuangan. Apabila dinaikkan tujuannya adalah untuk mengurangi kapasitas kredit bank. Sebaliknya, jika diturunkan, tujuannya untuk menambah kapasitas kredit bank.

Kebijakan GWM sekunder ditujukan untuk mempengaruhi cadangan likuiditas bank sekaligus pendalaman sektor keuangan. Apabila dinaikkan tujuannya adalah untuk mengurangi kapasitas kredit bank. Sebaliknya, jika diturunkan, tujuannya untuk menambah kapasitas kredit bank.

Ketiga, adalah GWM berdasarkan rasio kredit terhadap seluruh penghimpunan dana bank (loan to funding ratio/LFR), yakni simpanan minimum rupiah yang wajib dipelihara oleh bank dalam rekening giro di bank sentral sebesar persentase tertentu yang dihitung berdasarkan selisih antara realisasi LFR bank dan LFR target yang ditetapkan BI.

Tujuan dari GWM-LFR ini untuk mendorong penyaluran kredit bank tetap berada dalam rentang yang ditentukan agar mendorong intermediasi sehingga pertumbuhan ekonomi terpacu, tetapi tetap menjaga prinsip kehati-hatian.

Info Tambahan Lainnya
Hasil dari RDG terkait GWM merujuk pada keterangan BI baru-baru ini antara lain,
• Kewajiban minimum GWM Rupiah untuk BUK (Bank Umum Konvensional) yang pada saat ini sebesar 5,0% naik menjadi 6,0% mulai 1 Juni 2022, 7,5% mulai 1 Juli 2022 dan 9,0% mulai 1 September 2022.
• Kewajiban minimum GWM Rupiah untuk BUS (Bank Umum Syariah) dan UUS (Unit Usaha Syariah) yang pada saat ini sebesar 4,0%, naik menjadi 4,5% mulai 1 Juni 2022, 6,0% mulai 1 Juli 2022, dan 7,5% mulai 1 September 2022.
• Pemberian remunerasi sebesar 1,5% terhadap pemenuhan kewajiban GWM setelah memperhitungkan insentif bagi bank-bank dalam penyaluran kredit/pembiayaan kepada sektor prioritas dan UMKM dan/atau memenuhi target RPIM.
• Kenaikan GWM tersebut tidak akan mempengaruhi kemampuan perbankan dalam penyaluran kredit/pembiayaan kepada dunia usaha dan partisipasi dalam pembelian SBN untuk pembiayaan APBN.

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini