Saturday, October 1, 2022
spot_img
spot_img

BWI DKI: Pentingnya Literasi Wakaf Produktif Menuju Indonesia Emas 2045

Jakarta, Aktualiti.com – Selama ini masyarakat hanya mengenal infaq dan zakat, padahal ada salah satu instrumen keagamaan yang mampu mendorong peningkatan kesejahteraan umat. Bangsa Indonesia yang memiliki populasi islam terbesar di dunia seharusnya mampu mewadahi potensi tersebut. Namun, sayangnya literasi dan pemahaman wakaf di Indonesia masih sangat rendah.

Data Kementrian Agama, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Bank Wakaf Indonesia tahun 2000, tingkat literasi masyarakat mengenai wakaf berada pada indeks 50.48. Instrumen zakat lebih dikenal dengan indeks berada pada angka 66.78. Melihat hal ini, perlu rencana aksi yang baik untuk membangkitkan literasi masyarakat mengenai wakaf.

“Untuk itu, dalam rangka menuju kebangkitan wakaf produktif menuju Indonesia Emas 2045, kita harus bekerja keras setidaknya dalam lima rencana aksi,” ucap H.M Yunus selaku Sekretaris Badan Wakaf Indonesia Provinsi DKI Jakarta,pembina LWP NU tangsel serta pegiat filantropi saung songo bambu apus.. Minggu (20/3/2022)

Lima rencana aksi tersebut di antaranya adalah, pertama peningkatan pemahaman dan kesadaran wakaf yang sistematis, masif, dan terstruktur. Kedua, peningkatan jumlah pelaku dan harta wakaf melalui diversifikasi. Ketiga, peningkatan kompetensi nazhir (pengelola wakaf baik perorangan ataupun lembaga) dalam mengelola wakaf secara profesional, termasuk kompetensi dalam menjalankan kepatuhan terhadap regulasi dan prinsip wakaf. Keempat, peningkatan dampak manfaat bagi Mauquf ‘Alaih (penerima wakaf). Kelima, memperkuat sinergi antar pengelola dana sosial syariah dengan perbankan syariah (Islamic Commercial Fund).

Sekedar diketahui, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani pernah mengatakan bahwa kesadaran masyarakat terkait wakaf masih harus ditingkatkan, selain itu dari sisi institusi pengelola juga harus diperkuat, tidak lupa membangun kredibilitas.

Prinsip dasar wakaf bersifat strategis dan membangun peradaban. Hal itu didukung dengan peraturan wakaf yang tidak boleh berkurang namun dapat bertambah. Diversifikasi wakaf perlu disosialisasikan lebih masif pada masyarakat agar kesadaran wakaf semakin tinggi.

Ketua Badan Wakaf Indoneisa, Muhammad Nuh juga pernah mencontohkan Masjid Al-Falah yang berada di Orchard Road, Singapura. Masjid wakaf ini memiliki gedung megah yang disewakan. Hasilnya digunakan untuk umat dan pengembangan Islam.

Apalagi dengan kondisi seperti saat ini, yang mana pandemi merusak sendi-sendi perekonomian, manfaat wakaf sangat dibutuhkan. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2021, kondisi sosio-ekonomi masyarakat Indonesia sama dengan 2016. “Pada 2017-2018-2019 sudah membaik, sekarang kembali lagi. Ini enggak mungkin hanya diserahkan ke pemerintah untuk membantu saudara-saudara kita,” ungkapnya.

Khusus diversifikasi wakaf, Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin juga pernah mengatakan saat ini wakaf hanya dipahami sebagai wakaf tanah. Padahal banyak jenis wakaf lainnya yang dapat dilakukan seperti melalui surat-surat berharga, uang, dan investasi pada asuransi syariah.

“Berbeda dengan wakaf tanah, potensi wakaf uang dapat diperoleh dari donasi masyarakat secara luas. Jika wakaf tanah hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang mampu, dengan wakaf uang hampir setiap orang bisa menjadi wakif (pelaku wakaf)”.

Reporter : Ahmad Widyarma

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini