Friday, September 30, 2022
spot_img
spot_img

Inilah 7 BUMN ‘Zombie’ yang Akan Dibubarkan Erick Thohir

Jakarta, Aktualiti.com – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan akan bubarkan 7 BUMN ‘Zombie’ karena dinilai tidak tidak bisa berkembang dan malah terus merugi.

Istilah BUMN ‘Zombie’ sendiri muncul karena beberapa perusahaan milik negara tersebut sudah tidak beroperasi dan memiliki hutang yang cukup besar.

“(Alasan pembubaran) karena memang perusahaan-perusahaan ini sudah tidak beroperasi lama, dan tentu tidak mungkin sebuah perusahaan yang tidak beroperasi tetapi didiamkan,” jelas Erick dalam konferensi pers beberapa waktu lalu.

Menurut Erick, selain terus merugi dan memiliki hutang yang besar, perusahaan ini harus segera dibubarkan karena memberikan ketidakpastian bagi para pegawainya.

Bahkan salah satu BUMN yang masuk dalam rencana pembubaran, PT Istaka Jaya (Persero) sudah dinyatakan pailit oleh Pengadilan Jakarta Pusat.

Sebelumnya, Erick telah membubarkan tiga perusahaan BUMN ‘Zombie’ yaitu PT Industri Geras (Persero), PT Kertas Kraft Aceh (Persero), dan PT Industri Sandang Nusantara (Persero).

Ke depannya, masih ada empat perusahaan BUMN yang akan dibubarkan, yaitu PT. Merpati Nusantara Airlines (Persero), PT Istaka Karya (Persero), PT Pembiayaan Armada Niaga Nasional (Persero), dan PT Kertas Leces (Persero).

“Jadi yang empat BUMN lainnya pada intinya masih ada proses, apalagi seperti Istaka Karya dan Merpati Nusantara Airlines itu terdapat homologasi. Sedangkan dua BUMN lainnya hanya proses administrasi seperti tiga BUMN yang sudah dibubarkan,” kata Erick Thohir dilansir dari Antara, Kamis (17/3/2022).

Lebih detailnya, inilah 7 profil BUMN yang akan dibubarkan Erick Thohir:

1. PT Merpati Nusantara Airlines (Persero)

Perusahaan penerbangan ini mulai beroperasi sejak September 1962 oleh sejumlah perwira senior yang tergabung dalam PN MNA. Penetapan pailit MNA berdasarkan putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri (PN) Surabaya yang pada sidang 2 Juni 2022.

Per tanggal 1 Februari 2014, PT. MNA terlilit masalah keuangan dan utang. Berdasarkan laporan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA), MNA tercatat memiliki utang hingga Rp 10,95 triliun kala itu. Faktanya, PT. MNA pada saat itu telah menjadi anak perusahaan Garuda Indonesia, tapi malah terlilit hutang sebesar itu.

Majelis Hakim Pengadilan Niaga Surabaya sempat mengabulkan proposal perdamaian yang diajukan PT MNA kepada kreditor untuk penundaan pembayaran utang. Dikabulkannya permohonan tersebut membuat MNA batal pailit dan MAN bisa kembali beroperasi.

Sejak itu, MNA hanya mengantongi izin pelayanan kargo udara saja. Perusahaan hanya diberi tugas melayani pengantaran kargo untuk wilayah bagian timur dengan meminjam pesawat milik Garuda Indonesia.

2. PT Istaka Karya (Persero)

Istaka Karya awalnya bernama PT ICCI (Indonesian Consortium of Construction Industries), berdiri pada tahun 1979. Perusahaan konstruksi konsorsium ini pernah menangani beberapa proyek pemerintah.

Proyek yang sempat digarap Istaka Karya antara lain reklamasi Bitung Manado, Plaza Batamindo, hingga kereta bandara YIA. Istaka juga dikenal dengan beberapa proyek fly over di beberapa daerah.

Namun menurut laporan PPA, di tahun 2021, utang Istaka Karya mencapai Rp 1,08 triliun. Ekuitas atau modal perusahaan minus Rp 570 miliar dan total aset perusahaan tercatat Rp 514 miliar.

3. PT Industri Gelas (Persero) atau Iglas

PT Industri Gelas bergerak di bidang pembuatan kemasan gelas, khususnya botol. Perusahaan plat merah ini berdiri pada tanggal 29 Oktober 1956, dan penyalaan dapur peleburan pertama dilakukan pada tahun 1959.

Kerugian PT Iglas diawali pada saat minuman Coca-cola menurunkan pesanan botolnya. Order PT Iglas pun semakin menurun.

Pada tahun 2015, PT Iglas di Surabaya tak lagi beroperasi sehingga melakukan PHK kepada pegawainya. Belum lagi sengketanya dengan Pemkot Surabaya terkait lahan eks pabrik di Jalan Ngagel.

Merujuk laporan PPA, pada tahun 2008, aset PT Iglas hanya Rp 188,69 miliar, sedangkan utangnya mencapai Rp 318,99 miliar. Perusahaan mencatatkan rugi sebesar Rp 86,26 miliar. Kemudian pada tahun 2017, asetnya susut menjadi Rp 119,87 miliar, beban utang Rp 1,09 triliun, ekuitas minus Rp 977,46 miliar, pendapatan Rp 824 juta, dan rugi bersih Rp 55,45 miliar. Pada tahun 2017 lalu utang Iglas tercatat mencapai Rp 1,09 triliun.

4. PT Industri Sandang Nusantara (Persero) atau ISN

PT ISN adalah perusahaan plat merah yang bergerak dalam bidang tekstil dan turunannya, berdiri pada tahun 1961, dan bertujuan sebagai upaya swasembada pangan yang dicanangkan sejak 1961.

Namun pada tahun 2018, PT ISN sudah berhenti beroperasi. Bahkan PPA sudah membantu dengan menyuntikkan dana sebesar Rp 26 miliar, namun bantuan ini juga tidak mampu menyelamatkan PT ISN.

5. PT Kerta Kraft Aceh (Persero) atau KKA

PT KKA bergerak dalam bidang produksi kertas kantong semen yang berlokasi di kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Perusahaan yang berdiri pada 21 Februari 1983 ini, memiliki tujuan awal sebagai swasembada kertas kantong semen Indonesia.

Dulunya, Presiden Joko Widodo bahkan sempat bekerja di PT KKA. Namun sayangnya perusahaan plat merah satu ini terpaksa berhenti beroperasi pada tahun 2008 karena terlilit utang.

PPA bahkan harus memberikan dana talangan sebesar Rp 51,34 miliar dan pinjaman dana restrukturisasi sebanyak Rp 141,62 miliar untuk mengatasi masalah utang tersebut.

6. PT Kertas Leces (Persero)

PT Kertas Leces merupakan perusahaan kertas tertua kedua di Indonesia. Perusahaan ini berdiri bahkan sebelum Indonesia merdeka yaitu pada tahun 1940.

Perusahaan yang memproduksi kertas di Probolinggo ini kemudian resmi dinasionalisasi pada tahun 1959 oleh pemerintah Indonesia.

Namun, selama beroperasi, PT Kertas Leces menderita kerugian dan memiliki total tagihan sebesar Rp 2,12 triliun atas 431 kreditor. Sebanyak 15 karyawannya pun mengajukan permohonan pembatalan homologasi (kesepakatan perdamaian). Perusahaan tersebut sudah diputus pailit oleh Pengadilan Niaga Surabaya pada 25 September 2018.

7. PT Pembiayaan Armada Niaga Nasional (Persero) atau PANN

PT PANN berdiri khusus untuk melakukan usaha di bidang pengembangan armada niaga nasional. Sejak berdirinya pada tahun 1974, perusahaan ini tidak hanya menyediakan dan mengoperasikan armada niaga dan jasa pengadaan kapal saja, melainkan menjadi perantara pengadaan kapal dan perdagangan di bidang armada.

PANN tercatat memiliki anak usaha di bidang pembiayaan yakni PT PANN Pembiayaan Maritim. Berdasarkan catatan Kementerian Keuangan, PT PANN berdiri dengan modal dasar Rp 180 miliar dan modal disetor pemerintah Rp 45 miliar. Sementara 93 persen sahamnya dimiliki oleh pemerintah dan sekitar 6,9 persen dimiliki oleh Bank Mandiri.

Editor : Mochamad Nur Habib

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini