Tuesday, October 4, 2022
spot_img
spot_img

Mengenal Resesi, Penyebab serta Berbagai Dampaknya

Jakarta, Aktualiti.com – Krisis global yang terjadi pasca pandemi Covid-19 dan konflik Rusia-Ukraina membuat kita sering mendengar kata resesi ekonomi. Namun apa sebenarnya arti dari resesi? Faktor apa saja yang menyebabkannya? Lalu apa dampaknya?

Resesi merupakan sebuah periode pertumbuhan ekonomi dimana terjadi penurunan sementara di aktivitas perdagangan dan industri, yang umumnya ditandai dengan penurunan Produk Domesti Bruto (PDB) selama dua kuartal secara berturut-turut.

Kata resesi juga dimaknai sebagai perlambatan atau kontraksi besar-besaran dalam kegiatan ekonomi. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) resesi adalah kelesuan dalam kegiatan dagang, industri, dan sebagainya.

Ciri lain suatu perekonomian memasuki resesi ialah peningkatan jumlah pengangguran, penurunan ritel, serta pertumbuhan ekonomi sektor riil bernilai minus dalam periode tertentu secara berurutan.

Akibatnya sektor riil menahan daya produksinya yang berimbas pada PHK karyawan. Selain itu investor cenderung berinvestasi pada sektor yang aman, sehingga resesi akan membuat daya beli masyarakat melemah karena sangat selektif dalam menggunakan uang.

Faktor Pendorong Resesi Ekonomi

1. Inflasi

Inflasi merupakan proses meningkatnya harga secara terus-menerus. Inflasi sebenarnya bukan hal yang buruk, namun inflasi yang berlebihan masuk ke dalam kategori berbahaya sebab akan membawa dampak resesi.

2. Deflasi Berlebihan

Selain inflasi yang tak terkendali, deflasi yang berlebihan juga menjadi faktor pendorong terjadinya resesi. Deflasi merupakan kondisi saat harga turun dari waktu ke waktu dan yang menyebabkan upah menyusut, kemudian menekan harga.

3. Guncangan Ekonomi yang Mendadak

Guncangan ekonomi yang mendadak dapat memicu resesi serta berbagai masalah ekonomi yang serius. Mulai dari tumpukan hutang yang secara individu maupun perusahaan.

4. Ketidakseimbangan Produksi dan Konsumsi

Keseimbangan konsumsi dan produksi adalah dasar pertumbuhan ekonomi. Saat produksi dan konsumsi tidak seimbang, maka terjadi masalah dalam siklus ekonomi. Tingginya produksi yang tidak diimbangi dengan konsumsi akan berakibat pada penumpukan stok persediaan barang.

Rendahnya konsumsi, sementara kebutuhan kian tinggi akan mendorong terjadinya impor. Hal ini kemudian akan berakibat pada penurunan laba perusahaan sehingga berpengaruh pada lemahnya pasar modal.

5. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)

Berkembangnya teknologi juga menyumbang faktor terjadinya resesi. Sebagai contoh pada abad ke-19, terjadi gelombang peningkatan teknologi hemat tenaga kerja.

Revolusi yang dinamakan juga revolusi Industri ini kemudian membuat seluruh profesi menjadi usang, dan memicu resesi. Saat ini beberapa ekonom khawatir bahwa Artificial Intelligence (AI) dan robot akan menyebabkan resesi lantaran banyak pekerja kehilangan mata pencahariannya.

6. Pertumbuhan Ekonomi Merosot selama Dua Kuartal Berturut-turut

Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator yang digunakan dalam menentukan baik tidaknya kondisi ekonomi suatu negara. Jika pertumbuhan ekonomi mengalami kenaikan maka negara tersebut masih dalam kondisi ekonomi yang kuat.

Jika pertumbuhan ekonomi suatu negara minus selama 2 kuartal berturut-turut, maka secara teknis negara tersebut sudah memasuki resesi ekonomi.

7. Nilai Impor Lebih Besar dari Ekspor

Nilai impor terlalu besar disini adalah negara yang tidak dapat memproduksi kebutuhannya sendiri kemudian mengimpor dari negara lain. Sebaliknya, negara yang memiliki kelebihan produksi dapat mengekspor ke negara yang membutuhkan komoditas tersebut.

Sayangnya nilai impor yang lebih besar dari nilai ekspor dapat berdampak pada perekonomian yaitu, defisitnya anggaran negara.

8. Tingkat Pengangguran Tinggi

Tenaga kerja sebagai salah satu faktor yang berperan penting dalam penggerak perekonomian. Jika suatu negara tidak mampu menciptakan lapangan kerja yang berkualitas bagi para tenaga kerja lokal, maka tingkat pengangguran meningkat.

Dampak Resesi

Bagi pemerintah, resesi akan meningkatkan pengangguran di berbagai wilayah karena PHK massal yang terjadi. Pemerintah harus mampu menyediakan lapangan pekerjaan untuk menyerap tenaga kerja yang belum tersalurkan.

Selain itu pinjaman negara akan melonjak karena pemerintah butuh suntikan modal untuk menyelesaikan pemenuhan kebutuhan yang ada. Belum lagi dengan peningkatan suku bunga dari pada kreditur yang perlu dibayar pemerintah.

Dilain sisi daya beli masyarakat akan menurun sehingga pendapatan negara yang berasal dari pajak akan turun drastis. Saat terjadi resesi, pekerja akan digaji dengan minim sehingga perputaran uang di bawah akan sangat sedikit.

Jika pemerintah gagal menyediakan lapangan kerja dan menyerap tenaga kerja, maka pengangguran akan semakin meningkat. Rakyat tetap butuh kesejahteraan, sehingga pemerintah akan mulai memberikan bantuan sosial.

Hal ini semakin mempersulit pemerintah. Ketika pendapatan negara menurun, justru pengeluaran semakin banyak dan meningkat.

Bagi Perusahaan dan Pekerja

Arti resesi bagi perusahaan yaitu munculnya bayang-bayang kebangkrutan. Ekonomi yang negatif, krisis kredit, merosotnya aset yang berbasis utang dan masih banyak hal lainnya menjadi penyebab ancaman tersebut.

Daya beli masyarakat semakin menurun terhadap produk perusahaan, maka pendapatan perusahaan akan semakin kecil. Efek domino akan terjadi dimana bukan hanya perusahaan atau investor yang terdampak namun juga buruh atau pekerja.

Editor : Mochamad Nur Habib

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini