Tuesday, October 4, 2022
spot_img
spot_img

Pemerintah Siapkan Dana Rp 502,4 Triliun untuk Subsidi Energi Tahun Depan

Jakarta, Aktualiti.com- Pemerintah siapkan dana Rp 502,4 triliun guna mensubsidi energi tahun depan. Alokasi subsidi energi ditingkatkan untuk menjaga daya beli masyarakat karena tingginya inflasi.

“Tahun depan (anggaran subsidi dan kompensasi energi) masih akan sangat besar yang nanti angka finalnya akan disampaikan oleh bapak Presiden,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers terkait Sidang Kabinet Paripurna, Senin (08/08/2022).

Pemerintah tahun ini menganggarkan dana subsidi energi sebesar Rp 349,9 triliun. Angka itu bertambah menjadi Rp502,4 triliun untuk merespon tingginya inflasi dan naiknya harga minyak dunia yang diikuti dengan revisi asumsi harga minyak mentah (ICP) di dalam APBN 2022 dari asumsi awal US$ 63 per barel.

Awalnya, tahun ini pemerintah hanya akan mengalokasikan kompensasi BBM jenis solar, namun BBM jenis pertalite dan listrik ternyata juga naik. Akhirnya anggaran ditingkatkan menjadi Rp 275 triliun untuk menambah kompensasi energi.

Adapun anggaran untuk subsidi energi tahun ini ditambah Rp 74,9 triliun sehingga menjadi Rp 208,9 triliun. Penambahan tersebut terutama untuk BBM dan LPG sebesar Rp 71,8 triliun, dan penambahan anggaran subsidi listrik Rp 3,1 triliun.

Sri Mulyani ingin menjaga daya beli masyarakat dengan meningkatkan anggaran subsidi dan kompensasi energi. Ia mewaspadai tingginya inflasi dan krisis ekonomi dunia yang semakin luas dampaknya.

“Artinya tahun depan untuk beberapa subsidi dari beberapa barang yang diatur pemerintah masih akan dicoba untuk distabilkan dan dengan konsekuensi subsidi yang meningkat,” kata Sri Mulyani.

Baca juga : Jokowi Sebut 2023 Akan Jadi Tahun Gelap Bagi Perekonomian Dunia

Krisis ekonomi dan energi dan meningkatnya harga komoditas pokok dunia sudah dirasakan di berbagai belahan dunia.

Presiden Joko Widodo sudah mendapatkan kabar dari Bank Dunia bahwa akan ada 66 negara akan terpuruk akibat kondisi ekonomi yang buruk. Angka itu, awalnya hanya 9 negara, kemudian bertambah 25 negara kemudian bertambah 25 negara, 42 negara, hingga menjadi 66 negara.

“Ini bukan Indonesia, ini dunia, hati-hati, bukan Indonesia saya katakan, dunia,” ujar Jokowi.

 

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini