Thursday, September 29, 2022
spot_img
spot_img

Subsidi Energi per Mei 2022 Capai Rp 75,41 Triliun, Sri Mulyani: Pertamina Perlu Kendalikan

Jakarta, Aktualiti.com – Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani menyampaikan, realisasi belanja subsidi dan kompensasi energi per Mei 2022 mencapai Rp 75,41 Triliun. Sri Mulyani meminta Pertamina melakukan efisiensi subsidi dan kompensasi. Pasalnya, kenaikan angka subsidi juga terjadi karena volume penggunaan yang meningkat.

“Selain perbedaan harga yang meningkat, juga volume menaik. Inilah yang perlu untuk dikendalikan oleh pertamina,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, Kamis (23/06/2022).

Lebih detail, wanita yang kerap disapa Ani ini menjelaskan realisasi Rp 75,41 itu terdiri dari subsidi reguler bulan Mei yang menyentuh angka Rp 65,24 triliun, jumlah ini melonjak signifikan hingga 31 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 49,79 triliun. Sedangkan Rp 10,17 triliunnya adalah kurang bayar tahun sebelumnya.

“Subsidi kompensasi di 2022 untuk subsidi mencapai Rp 65,24 triliun plus pembayaran kurang bayar tahun sebelumnya Rp 10,17 triliun,” kata Ani.

Baca juga : Anggaran Subsidi Energi Rp 502 Trilliun, Jokowi: Bisa Bangun Ibukota Baru

Ani melanjutkan, realisasi subsidi tahun ini melonjak disebabkan oleh percepatan pencairan kurang bayar subsidi di 2021, kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP), serta meningkatnya volume penyaluran, khususnya subsidi energi.

Adapun realisasi penyaluran subsidi terdiri atas BBM meningkat dari 5,0 juta KL menjadi 5,6 juta KL, LPG tiga kg dari 2,4 juta MT jadi 2,5 juta MT, listrik bersubsidi dari 37,4 juta pelanggan ke 38,4 juta pelanggan, pupuk dari 3,1 juta ton ke 3,5 juta ton, dan subsidi perumahan dari 28,2 ribu unit ke 46 ribu unit.

Dia tidak menyangkal bahwa subsidi dan kompensasi energi mendominasi belanja non kementrian/lembaga dengan realisasi Rp 334,7 triliun per Mei 2022.

“Belanja non K/L yang mencapai Rp 334,7 triliun, didominasi oleh subsidi dan kompensasi,” jelas Ani.

Selain BBM, listrik subsidi juga naik dari 37,4 juta pelanggan pada tahun 2021, menjadi 38,4 juta.

“Ini adalah yang menggambarkan APBN sebagai shock absorber. Jumlah kebutuhan masyarakat meningkat, harga tinggi namun tidak dilakukan perubahan harga. Ini yang menjadi dominasi tema pelaksanaan APBN 2022 karena APBN melakukan shock absorber,” pungkas dia.

Editor : Mochamad Nur Habib

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini