Tuesday, October 4, 2022
spot_img
spot_img

AS Dihantam Resesi, Sri Mulyani: Indonesia Harus Waspadai Kinerja Ekspor

Jakarta, Aktualiti.com – Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani menyatakan secara teknis Amerika Serikat telah dihantam resesi. Ia menilai bahwa Indonesia harus waspada terhadap kinerja ekspor.

Resesi di AS secara teknis terjadi karena secara berturut-turut pertumbuhan ekonomi AS minus, lebih tepatnya minus 0,9 persen secara tahunan (year on year) pada kuartal II 2022. Di kuartal sebelumnya, ekonomi AS bahkan jatuh lebih dalam di posisi minus 1,6 persen.

Sri Mulyani kemudian menyoroti hal tersebut karena akan berdampak pada kinerja ekspor Indonesia.

“Pagi ini membaca berita, Amerika negatif growth kuartal II, teknik masuk resesi. RRT (China) seminggu yang lalu keluar dengan growth kuartal II yang nyaris nol. Apa hubungannya dengan kita? Amerika, RRT, dan Eropa adalah negara-negara tujuan ekspor Indonesia,” kata Menkeu dalam acara Dies Natalis PKN STAN, Jumat (29/07/2022).

Menkeu juga menjelaskan bahwa pelemahan ekonomi global pasti terjadi seiring kebijakan berbagai negara untuk merespon krisis global saat ini.

“Kalau seandainya kenaikan suku bunga dan likuiditas cukup kencang, maka pelemahan ekonomi global pasti terjadi,” ujar wanita yang kerap disapa Ani ini.

Ditambah dengan konflik Rusia-Ukraina yang belum kunjung reda memperburuk kondisi perekonomian dunia, mengingat kedua negara tersebut adalah produsen energi dan pangan terbesar di dunia.

Baca juga : Menteri Keuangan Imbau Masyarakat Waspadai Inflasi

“Perangnya di Eropa, tapi dampaknya ke seluruh dunia. Krisis pangan, energi terjadi,” sambung dia.

Kompleksitas permasalahan yang ada mendorong pemerintah menerapkan berbagai kebijakan yang bisa berdampak positif maupun negatif. Namun Sri Mulyani optimis Indonesia mampu melewati ancaman resesi ini.

“Indonesia masih diperkirakan (oleh IMF) tumbuh 5,3 persen atau sedikit terkoreksi 0,1 persen dan tahun depan masih di 5,2 persen. Meski proyeksi ini terlihat baik, kita tidak boleh terlena, kita harus tetap waspada, karena ini bukan guncangan yang sepele,” ujarnya.

Tekanan inflasi memang bisa berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, kinerja ekonomi Indonesia sangat baik bila dilihat dari sisi eksternal, dengan pertumbuhan ekspor yang menjanjikan.

“Kinerja ekonomi Indonesia yang baik terlihat dari sektor eksternal, ekspor tumbuh kuat. Migas dan non migas tumbuh cukup baik. Produk yang berkontribusi adalah batu bara, sawit, besi dan baja. Impor juga masih kuat, menandakan kebutuhan produksi meningkat,” jelas dia.

Namun Sri Mulyani tetap tidak mau menyepelekan inflasi. Di Indonesia, komponen inflasi yang naik cukup cepat adalah volatile food.

“Inflasi kita harus mulai waspada. Komponen inflasi di Indonesia yang naik cukup cepat (naik) adalah volatile food. Walaupun pemerintah melakukan berbagai upaya stabilitas pangan, namun ada kenaikan harga pangan utamanya yang impor seperti gandum,” tandasnya.

Editor : Mochamad Nur Habib

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini