Friday, October 7, 2022
spot_img
spot_img

Hadiri KTT G7, Presiden Jokowi Selalu Kedepankan Isu Perdamaian di Ukraina

Elmau, Aktualiti.com – Presiden Joko Widodo hadiri pertemuan bilateral Konferensi Tingkat Tinggi G7 di Elmau, Jerman, Senin (27/08/2022). Jokowi selalu mengedepankan isu perdamaian di Ukraina.

Konflik Rusia-Ukraina menurut Jokowi membawa dampak bukan hanya bagi kedua negara bersangkutan, namun bagi seluruh dunia.

Dampak yang telah dirasakan diantaranya ialah krisis energi dan pangan di dunia. Rantai pasokan pangan global rusak, terutama komoditas yang berkaitan dengan kedua negara tersebut. Diketahui kedua negara tersebut adalah penyuplai gandum terbesar di dunia.

“Kita harus segera bertindak cepat mencari solusi konkret. Produksi pangan harus ditingkatkan. Rantai pasok pangan dan pupuk global harus kembali normal,” ujar Jokowi di Elmau, Jerman, Senin, (27/06/2022).

Jika krisis ini tidak segera diselesaikan, ratusan penduduk dunia, terutama di negara-negara miskin dan berkembang, akan terancam kelaparan dan mengalami kemiskinan ekstrem.

Menurut World Food Programme, ada 323 juta orang di 2022 yang terancam menghadapi kerawanan pangan akut. Presiden Jokowi menilai G7 dan G20 memiliki tanggung jawab besar mengatasi krisis pangan ini.

Baca juga : Temui Presiden Putin dan Zelensky, Jokowi: Indonesia Berupaya Atasi Krisis Pangan dan Energi Dunia

“Mari kita tunaikan tanggung jawab kita, sekarang, dan mulai saat ini,” tegas dia.

Menlu Retno Marsudi menjelaskan Presiden Joko Widodo melakukan sembilan pertemuan bilateral. Di antaranya adalah pertemuan dengan PM India Narendra Damodardas Modi, Presiden Perancis Emmanuel Jean-Michel Frédéric Macron, dan PM Kanada Justin Pierre James Trudeau.

Lalu, Kanselir Jerman Olaf Scholz, PM Inggris Alexander Boris de Pfeffel Johnson, PM Jepang Fumio Kishida, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Presiden Dewan Eropa Charles Michel, dan manajemen karakter International Monetary Fund (IMF).

“Isu perang dibahas di semua pertemuan bilateral. Presiden menekankan bahwa waktu kita tidak panjang untuk menyelesaikan gangguan rantai pasok pangan yang menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga pangan dan pupuk. Jika dunia tidak bersatu, yang paling akan merasakan dampaknya adalah ratusan juta atau bahkan miliaran penduduk negara berkembang,” ujar Retno.

Editor : Mochamad Nur Habib

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini