Tuesday, October 4, 2022
spot_img
spot_img

Benarkah Perempuan Haid Haram Masuk Masjid? Begini Penjelasannya

Jakarta, Aktualiti.com – Larangan perempuan yang sedang haid masuk masjid memang ada dalam fiqih, tetapi pandangan tersebut memiliki perbedaan dan perdebatan. Seseorang bisa mengambil pandangan yang tidak memperburuk keadaan perempuan.

Dalam fiqih, haid termasuk hadas atau sesuatu yang menghalangi seseorang untuk beribadah seperti sholat. Sebagai hadas, haid sama seperti junub akibat hubungan seks atau saat keluar sperma. Hanya saja haid lebih lama durasinya, dan tidak bisa dihentikan sendiri. Sedangkan, junub bisa kita kendalikan waktunya, sementara haid harus menunggu darah selesai keluar.

Fiqih sangat terbuka dengan solusi ini, namun di antara kita sering kali lebih suka mempersulit dan memperburuk keadaan. Kita tidak lagi menjadi orang yang mampu bersikap rahmah li al-âlamin dan berakhlak mulia kepada perempuan.

Padahal inilah Visi dan Misi Islam. Prinsip Islam sendiri, seperti kata Nabi Muhammad Saw. yakni mempermudah bukan mempersulit.

Sahabat Aktualiti, perlu kita ketahui bersama bahwa Mazhab Hanafi melarang perempuan haid masuk masjid, memperbolehkan perempuan masuk Masjid Al – Haram untuk tawaf jika khawatir akan ditinggal rombongannya.

Sama halnya, Mazhab Syafi’i juga memperbolehkan perempuan haid, jika dalam kondisi membutuhkan untuk masuk dan melewati madjid dengan menjaga diri agar darah haidnya tidak menetes ke lantai masjid. Hal ini berdasarkan referensi Wizarat Al-Awqaf wa asy- Syu’un Al-Islamiyah (Kuwait: Dar ash- Shafwah, 1994), Juz 18, hal. 322-323.

Oleh karenanya, alasan yang relevan mengaitkan larangan perempuan yang sedang haid adalah kemungkinan mengotori masjid dengan daranya. Jika mampu menjaga diri, maka masuk masjid ketika ada kebutuhan seyogianya dibolehkan. Larangan ini tidak terkait dengan tubuh perempuan yang dianggap kotor atau najis. Sehingga perempuan masih terbuka kesempatan untuk mengakses masjid demi kebaikan dan kemaslahatan yang dibutuhkannya.

Faqihuddin Abdul Kodir atau yang kerap disapa Kang Faqih (Bapak Mubadalah) juga menjelaskan dalam bukunya Perempuan Bukan Sumber Fitnah bahwa keadilan dalam perspektif Mubadalah adalah ketika urusan perempuan dimasukkan sebagai urusan kemanusiaan, bukan sebagai urusan perempuan semata. Jenis kelamin seharusnya tidak menghalangi perempuan untuk memperoleh manfaat hidup, baik ranah domestik maupun publik. Sebagaimana kita ketahui bersama, Islam sejak pertama kali hadir, dengan segala misi spiritual dan sosial nya menyapa perempuan dan laki-laki tanpa kecuali. Islam hadir membawa kerahmatan dan kemaslahatan untuk manusia tanpa mendahulukan laki-laki dan menelantarkan perempuan.

Artinya, larangan perempuan haid tidak sepenuhnya benar, akan tetapi ada beberapa hal yang diperbolehkan dan dilarang ketika perempuan haid. Yakni ditakutkan darahnya akan mengotori lantai masjid, bukan karena haram saat masuk ke dalam masjid.

Hal ini dikuatkan dalam riwayat Shahih Al Bukhari, Kitab Al Hafidh No. 715 yang berbunyi.
Dari Aisyah r.a., berkata:
Rasulullah Saw. bersabda : “Ambilkan pakaian ku dari dalam masjid.” Aku menjawab : “Aku sedang haid.” Lalu Nabi menimpali : “Haidmu itu bukan di tanganmu.”

Wallahu A’lam.

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini