Saturday, October 1, 2022
spot_img
spot_img

Bersilaturahmi ke Kediaman Sayyid Ahmad Al Maliki, Gus Faiz Mendapatkan Ijazah Imamah

Jakarta, Aktualiti.com – Guz Faiz, sapaan akrab KH. Muhammad Faiz sempatkan bersilaturahmi ke kediaman Sayyid Ahmad Almaliki pada Rabu, 13 Juli 2022.

“Melalui Kiai Raden Azaim, Pengasuh PP Syafi’iyah Situbondo, saya bisa bersilaturrahmi kepada Sayyid DR Ahmad Al-Hasani Al-Maliki di rumah beliau di daerah Rushaifa Makkah,” Ujar Gus Faiz melalui unggahannya di Facebook Pesantren Daarul Rahman.

Dalam momen silaturahmi, Gus Faiz diijazahi imamah oleh Sayyid Ahmad Al Maliki. Seperti diketahui, Sayyid Ahmad Al Maliki merupakan putra pertama dari ulama terkenal di Makkah, yaitu Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki.

Lahir dari keluarga ulama besar dan terpandang di Makkah, Sayyid Ahmad merupakan keturunan mulia yang bersambung secara langsung dengan Nabi Muhammad.

Konsep Ijazah dalam Perspektif Islam

Secara bahasa, ijazah berarti legalitas atau putusan, sedangkan dalam ranah ilmu Al-Qur’an adalah sebuah persaksian atau pengakuan dari seorang mujiz (guru yang memberikan ijazah) kepada seorang mujaz (yang mendapatkan ijazah) atas keahliannya dalam bidang Al-Qur’an, dll.

Menurut KH. Akhmad Said Asrori di laman nu.or.id, Ijazah adalah sesuatu amalan yang diberikan mulai dari Nabi Muhammad kepada sahabat, sahabat kepada tabi’in, tabi’in kepada tabi’it tabi’in sampai kepada para ulama, kiai dan para guru kita semua.

Ijazah juga, “melanjutkan yang artinya satu bentuk perizinan dari para kiai kepada para santri untuk mengamalkan satu amalan yang bermanfaat yang berkenaan dengan masalah-masalah duniawi atau masalah-masalah ukhrowiyah,” katanya dalam laman nu.or.id.

Secara sederhana, konsep ijazah adalah mengizinkannya seorang guru (yang memberi ijazah) kepada muridnya untuk mengamalkan amalan tertentu.

Ijazah menjadi ciri khas warga nahdliyyin dalam rangka menjaga diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa dari segala hal yang berpotensi merusak atau menghancurkan.

Memang dalam praktiknya, dampak yang ditimbulkan tidak bisa dirasakan secara langsung atau direncanakan sesuai dengan keinginan yang mengamalkan.

Namun, Islam menjadikan faktor Ketuhanan atau Ilahiyat menjadi salah satu faktor utama dalam beraktifitas.

Di dalamnya ada berkah, rahmat, inayah, hidayah, dan beberapa faktor positif lain, yang bahkan secara matematik tidak bisa dihitung secara pasti, namun pasti adanya.

Oleh karenanya, banyak tokoh-tokoh besar di Indonesia atau bahkan di dunia jika ditelusuri secara detil aktifitas sehari-harinya tidak lepas dari amalan khusus yang dijalankan di luar ibadah yang sifatnya wajib.

Misalnya, Presiden Jokowi, siapa yang menyangka presiden ketujuh Republik Indonesia itu rajin berpuasa Senin-Kamis di tengah padatnya aktifitas kenegaraan.

Silahkan cek di beberapa sumber, bahkan ada yang menyebutkan tidak hanya Presiden Jokowi yang rajin berpuasa, namun sekeluarga rajin berpuasa sejak tahun 2003.

Konsep Imamah (Busana) dalam Perspektif Islam

Dalam bahasa Arab, imamah disebut juga sorban. Nabi SAW menggunakan imamah di Kepala. Dalam tradisi umat Islam, sorban seringkali dipakai sebagai selendang. Padahal, selain memakai sorban, Nabi SAW juga mengenakan selendang yang disebut rida.

Imamah atau sorban sejatinya adalah budaya orang Arab. Dilansir dari langit7.id, Habib Hasan bin Ismail Al-Uhdor mengatakan, imamah dan rida merupakan sunnah fi’liyah Rasulullah SAW.

Nabi SAW bersabda seperti dikutip oleh Imam Jalaluddin al-Suyuti dalam Lubab al-Hadits, “Sorban-sorban adalah mahkota-mahkota Arab, maka apabila mereka memakainya, mereka memakai kemuliaan mereka.”

Habib Ahmad Hasan Athos dalam chanel you tube Dilwa Media meriwayatkan, ulama salaf, atau ulama pendahulu tidak memakaikan imamah kepada anak-anak mereka (ulama) kecuali sudah menghafalkan Kitab Bidayatul Hidayah.

Tingkatan hafalan kitab, harus benar-benar hafal, bahkan dalam riwayat, hafalnya seperti kita hafal surat Al Fatihah.

Tidak berhenti di hafalan, namun diamalkan sehingga memperlihatkan apakah seorang yang memakai imamah layak atau tidak.

Artinya, setiap orang islam yang memakai imamah akhlak dan ilmunya harus mumpuni, karena mempelihatkan kemuliaan, sesuai dengan hadist Nabi.

Tidak sepantasnya orang yang memakai imamah tapi berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan muhrim atau tindakan-tindakan lainnya yang sepantasnya. Makanya seringkali imamah menunjukkan kesalehan seseorang.

Reporter : Dani Az

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini