Friday, October 7, 2022
spot_img
spot_img

Filosofi Memayu Hayuning Bawana, Bentuk Kearifan Lokal yang Ciptakan Keselarasan Alam

Jakarta, Aktualiti.com – Kearifan lokal merupakan unsur – unsur kebudayaan yang berasal dari pandangan – pandangan bijaksana masyarakat lokal, sehingga membentuk suatu sistem pengetahuan, perilaku atau aturan yang dianggap baik dan menjadi acuan pada satu kelompok masyarakat di wilayah tertentu, serta diyakini kebenarannya untuk mewarnai pola perilaku masyarakat tersebut. Akan tetapi sistem pengetahuan, perilaku dan aturan tersebut belum tentu dianggap baik juga oleh masyarakat di wilayah lainnya.

Suatu sistem pengetahuan, perilaku atau aturan dapat dikatakan sebagai kearifan lokal apabila berisikan beberapa konsep, antara lain: berasal dari waktu dan pengalaman yang panjang, dapat digunakan sebagai petunjuk untuk melakukan suatu tindakan, tidak terlepas dari suatu wilayah tempatnya berasal, serta bersifat dinamis dan terbuka, sehingga dapat disesuaikan dengan keadaan dan kondisi. Kearifan lokal seringkali berkaitan dengan alam, karena mencakup suatu etika dan moralitas yang menjadi petunjuk masyarakat di wilayah tertentu dalam mengelola dan mengembangkan alam. Selain berkaitan dengan alam, kearifan lokal juga berkaitan dengan hubungan antar manusia dengan manusia lainnya serta hubungan manusia dengan yang gaib. Dengan kata lain, kearifan lokal mencakup hubungan vertikal dan horizontal manusia.

Adanya kearifan lokal memiliki banyak fungsi antara lain sebagai pengatur kehidupan masyarakat, baik secara praktis maupun teknis; sebagai konsepsi tentang kehidupan; sebagai pemberi kerangka referensi, pijakan, pedoman, pengontrol, tata kelola kehidupan, dan rambu – rambu untuk bersikap, bertingkah laku dan berperilaku dalam berbagai dimensi kehidupan, baik saat berhubungan dengan yang yang gaib, dengan sesama manusia maupun dengan alam. Sehingga secara sederhana kearifan lokal memiliki fungsi sebagai penciptanya keselarasan alam.

Sebagai makhluk hidup yang berpikir dan berkebudayaan, manusia memiliki peranan yang sangat besar dalam menjaga keselarasan alam. Manusia harus turut serta merawat alam, karena menjadi tempatnya tinggal dan alam juga selalu memenuhi kebutuhan hidup manusia. Selain merawat alam manusia juga harus paham bagaimana sebaiknya manusia bersikap terhadap alam.

Perwujudan dari peran manusia untuk menjaga keselarasan dan bersikap terhadap alam dapat dilakukan dengan cara mengembangkan keyakinan dan pengetahuan yang baik mengenai cara menjaga keselarasan alam. Salah satu caranya dapat dilakukan melalui kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Terdapat banyak sekali kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, terutama yang berkaitan dengan penjagaan keselarasan alam.

Baca juga : Mendalami Serat Wedhatama, Sebuah Ajaran Moralitas Islam Jawa 

Kearifan lokal yang terkenal dan telah mendunia mengenai keselarasan alam adalah konsep Tri Hita Karana di Bali. Konsep Tri Hita Karana merupakan konsep yang terdiri dari aktivitas mengenai tanggung jawab sosial, karena didalamnya mencakup keharmonisan hubungan antar manusia, alam semesta dan yang gaib. Kearifan lokal ini memiliki peran yang sangat besar terhadap keselarasan yang ada di Bali. Para wisatawan dan juga penduduk lokal sangat menaati Tri Hita Karana, sehingga keselarasan alam dapat diciptakan dan berjalan dengan sangat baik.

Konsep – konsep semacam Tri Hita Karana di Bali, tidak hanya mencakup kearifan lokal, tradisi, atau budaya. Akan tetapi dalam sejarahnya, konsep tersebut juga termasuk ke dalam fenomena sosial – politik. Sebagai contohnya, penggunaan konsep Tri Hita Karana di Bali digunakan sebagai sebuah upaya untuk merevitalisasi dan melestarikan budaya aslinya.
Sama seperti konsep Tri Hita Karana di Bali, terdapat juga beberapa contoh kearifan lokal yang masih tersimpan di Indonesia, antara lain Sak – Sak di Pulau Lombok, Pikukuh Baduy pada Masyarakat Baduy Banten, serta masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa juga memiliki kearifan lokal sebagai suatu sistem pengetahuan, perilaku atau aturan dalam menjalankan kehidupannya.

Dalam pandangan hidup masyarakat Jawa, kehidupan yang dilakukan tidak terlepas dari alam sebagai tempat tinggal. Masyarakat Jawa akan terus berinteraksi dan bergantung dengan alam secara berkelanjutan, sehingga hal tersebut membuat masyarakat Jawa memiliki kearifan lokal yang digunakan untuk terus menciptakan keselarasan alam. Masyarakat Jawa percaya bahwa mereka memiliki kewajiban untuk turut serta menciptakan keteraturan agar tercipta kosmos yang harmonis, adil, dan teratur. Kewajiban tersebut tertuang dalam ungkapan Jawa Memayu Hayuning Bawana, untuk membangun keindahan dunia serta Memasuh Malaning Bumi sebagai poros penting mencapai tujuan tersebut.

Arti Memayu Hayuning Bawana.

‘Memayu’ berasal dari kata ‘Hayu’ atau ‘Ayu’ yang memiliki arti ‘indah’ atau ‘aman’ yang kemudian mendapat awalan ‘Ma-’ dan memiliki arti ‘memperindah’ atau ‘memberikan keamanan’. Selain itu kata ‘Mamayu’ juga dapat diartikan sebagai memayungi, yang berarti melindungi dari segala hal yang dapat mengganggu keamanan atau dari ketidak amanan akibat sesuatu. Kata ‘Mamayu’ kemudian sering diucapkan ‘Memayu’. Kata ‘Hayuning’ berasal dari kata ‘Hayu’ dengan menambahkan akhiran ‘-Ning’ (milik), yang memiliki arti keindahan atau keselamatan (keselamatannya). Sehingga ungkapan ‘Memayu Hayuning’ dapat dimaknai sebagai upaya yang mengutamakan keselamatan, kebahagiaan, dan keharmonisan.

Sedangkan kata ‘Bawono’ atau ‘Bawana’ memiliki arti dunia, dari segi dunia fisik maupun dunia batin, mental, atau spiritual. ‘Bawono’ menurut masyarakat Jawa terdiri dari tiga macam arti, yaitu: Bawono Alit (kecil) artinya pribadi dan keluarga; Bawono Agung (besar) artinya masyarakat, bangsa, negara dan internasional (global); Bawono Langgeng (abadi) artinya akhirat. Kata ‘Hayuning Bawana’ juga dapat dilihat sebagai objek yang dilindungi atau dipayungi. Objek yang dimaksud bisa berarti alam semesta yang diharapkan dapat terus lestari. Hal tersebut menjelaskan bahwa adanya ancaman bagi kelestarian alam dari satu pihak dan upaya mempertahankan keharmonisan alam dari pihak yang lainnya.

Apabila diterjemahkan secara bebas dalam Bahasa Indonesia sehingga Memayu Hayuning Bawana memiliki arti ‘membuat indah keindahan alam’. Para leluhur masyarakat Jawa memiliki tujuan agar konsep tersebut dapat digunakan untuk mengkonservasi, menjaga, dan memelihara alam, serta memiliki tekad untuk mengelola alam tanpa merusak segala yang ada di alam semesta sebagai suatu amanah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Memayu Hayuning Bawana merupakan sebuah filosofi Jawa yang mencerminkan bentuk perilaku masyarakat Jawa dalam menyelaraskan antara makrokosmos (jagad gumelar) dan mikrokosmos (jagad gumulung). Falsafah tersebut bersifat universal dan mencakup pedoman mengenai berbagai masalah sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, serta lingkungan hidup. Masyarakat Jawa percaya konsep ini tidak hanya sebagai filosofi hidup tetapi juga sebagai karakter yang harus dimiliki setiap orang.

Baca juga : Mendalami Suluk Linglung, Ajaran Makrifat Sunan Kalijaga

Peran Memayu Hayuning Bawana dalam Menciptakan Keselarasan Alam

Tidak dapat dipungkiri bahwa alam seringkali mengalami kerusakan yang disebabkan oleh perilaku manusia, selain itu akibat – akibat dari kelalaian yang dilakukan manusia dalam mengelola alam juga dapat menyebabkan kecelakaan pada manusia itu sendiri. Sehingga dari permasalah tersebut, manusia berkaca dan mencari solusi yang paling tepat.
Masyarakat Jawa telah mempunyai kearifan lokal Memayu Hayuning Bawana sebagai bentuk kebijaksanaan yang dapat digunakan manusia untuk mengelola alam.

Sejak dinasti Mataram Islam, Memayu Hayuning Bawana memiliki peran yang sangat besar untuk mengajarkan masyarakat Jawa mencapai keselarasan antara manusia sebagai makrokosmos dengan alam sebagai mikrokosmos, selain itu juga tidak dapat dilepaskan dengan konsep hakikat hidup manusia. Memayu Hayuning Bawana menjadi upaya penciptaan harmonisasi ikatan antara manusia dengan Sang Pencipta, antar sesama umat manusia, antar manusia dengan makhluk yang gaib dan umat manusia dengan alam yang selaras dan seimbang. Kosmos, termasuk kehidupan, benda – benda dan peristiwa – peristiwa di dunia merupakan suatu kesatuan yang terkoordinasi dan teratur, suatu kesatuan eksistensi yang membuat setiap gejala, material dan spiritual memiliki arti yang jauh melebihi segala sesuatu yang dapat dilihat. Masyarakat Jawa memiliki anggapan bahwa alam merupakan ungkapan kekuasaan yang akan menentukan kehidupan manusia. Melalui alam semesta, manusia akan menyadari adanya ketergantungan pada kekuasaan – kekuasaan adiduniawi yang tidak dapat diperhitungkan.

Analisis kosmologi mengenai Memayu Hayuning Bawana merupakan pencerminan kepekaan masyarakat Jawa dengan alam semesta. Kepekaan tersebut didasari oleh keadaan nurani yang bersih, sehingga menjadi modal untuk menyeimbangan batin. Dengan batin yang seimbang inilah, manusia akan memiliki ketajaman rasa serta dapat menghayati hidup secara mendalam. Sehingga konsep Memayu Hayuning Bawana ikut berperan dalam menjaga terciptanya keseimbangan kosmos. Selain itu, ikatan kosmos yang kuat sangat diperlukan manusia untuk menggantungkan dirinya kepada kekuatan alam secara utuh.

Peranan Memayu Hayuning Bawana pada mikrokosmos adalah adanya hubungan pribadi yang harmonis antara manusia dengan Sang Pencipta; adanya hubungan yang harmonis antara pemimpin yang mengayomi rakyatnya; adanya tanggung jawab pemimpin terhadap kemakmuran dan keamanan rakyatnya; dan adanya rasa patuh dari rakyat terhadap pemimpin terkait dengan tujuan bersama yang mengarah pada kebaikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa kewajiban yang dilakukan pada kehidupan manusia memang diperuntukan bagi kehidupan sesama dan alam semesta. Selain itu, Memayu Hayuning Bawana juga memiliki peran terhadap hubungan antara manusia dengan tuhannya, berbentuk keikhlasan manusia melakukan sesuatu pada tingkatan makrokosmos maupun mikrokosmos.

Dalam penerapan konsep Memayu Hayuning Bawana memiliki beberapa tingkatan, antara lain: Memayu Hayuning Pribadi lan Kulawarga (kebaikan untuk diri sendiri dan keluarga); Memayu Hayuning Sasama (kebaikan untuk sesama manusia dan makhluk); Memayu Hayuning Bawana (Kebaikan untuk seluruh alam semesta).
Relevansi Memayu Hayuning Bawana di Zaman Modern.

Di zaman modern seperti sekarang, masyarakat Jawa masih berpegang teguh dengan segala budaya yang dimilikinya, salah satunya adalah kearifan lokal berupa konsep Memayu Hayuning Bawana. Hal tersebut dapat dilihat dalam beberapa contoh aktivitas masyarakat Jawa. Pertama, oleh masyarakat di sekitar Taman Nasional Gunung Merapi. Masyarakat tersebut menggunakan konsep Memayu Hayuning Bawana saat melakukan sistem perumputan; ritual adat dan pengelolaan alam didasarkan atas kesadaran akan pentingnya menjaga dan memahami alam. Selain itu terdapat juga ritual yang dilakukan oleh masyarakat sekitar Taman Nasional Gunung Merapi yaitu ‘Merti Bumi’. ‘Merti Bumi’ merupakan salah satu ritual yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar Taman Nasional Gunung Merapi, yang memiliki tujuan untuk menjaga lingkungan Gunung Merapi serta sebagai bentuk perwujudan bakti pada Tuhan Yang Maha Esa.

Kedua, oleh masyarakat di sekitar Candi Cetho, lereng Gunung Lawu. Masyarakat tersebut memaknai konsep Memayu Hayuning Bawana dalam dua cara. Cara pertama adalah hubungan manusia dengan alam semesta, dengan cara pembangunan tanggul, pemilihan material bangunan, penentuan lokasi bangunan, dan pengelolaan air serta lahan pertanian. Cara kedua adalah hubungan manusia dengan Tuhan, dengan cara melakukan ritual Mondosiyo, ritual Dawuhan, dan ritual Kali Baku. Cara – cara tersebut dilakukan masyarakat agar dapat mencapai keselarasan alam atau memaknai secara utuh mengenai Memayu Hayuning Bawana.

Ketiga, oleh masyarakat di Kabupaten Madiun Jawa Timur. Masyarakat tersebut menggunakan konsep Memayu Hayuning Bawana pada saat menghadapi pandemi covid-19. Masyarakat Madiun memaknainya dengan ritual keagamaan, perduli tonggo teparo, gotong royong, serta lumbung pangan dan tanaman berkhasiat. Keempat cara tersebut merupakan bentuk penerapan dari Memayu Hayuning Bawana.

Ketiga contoh tersebut diatas hanyalah sedikit dari banyaknya bentuk kearifan lokal Memayu Hayuning Bawana yang dipercaya oleh masyarakat Jawa. Kearifan lokal tersebut masih terus dilestarikan hingga sekarang, melalui berbagai cara yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Memayu Hayuning Bawana terus dilaksanakan, karena masyarakat Jawa memiliki harapan besar agar dapat terus menjaga keselarasan alam dari sikap manusia yang seringkali tidak bertanggung jawab terhadap alam.

Penulis: Masning Salamah

Editor : M Nur Habib

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini