Wednesday, December 7, 2022
spot_img
spot_img

Isu Perselingkuhan Semakin Mencuat, Bagaimana Muslim Menyikapinya?

Jakarta, Aktualiti.com- Isu perselingkuhan kini mulai mencuat di beberapa pekan terakhir ini, terlebih pasangan selebritis tanah air yang tengah viral dengan isu tersebut. Yah, tentunya penyebab perselingkuhan yang kian beragam membuat publik semakin geram dengan posisi laki-laki yang dianggap tak setia ini. Betulkah demikian sahabat Aktualiti?

Lalu bagaimana kita harus menyikapinya? Dan bagaimana pandangan Islam terkait hal demikian?

Artikel ini akan menjadi salah satu referensi jawaban dari berbagai macam persoalan hangat tentang perselingkuhan yang kian mencuat di masyarakat. Memang tak dapat dipungkiri bahwa perselingkuhan tidak mungkin terjadi jika tidak adanya persetujuan antara kedua belah pihak, baik dari pihak ketiga maupun dengan suami istri tersebut dimana keduanya sama-sama bersalah. Pada sebuah keterangan mengatakan bahwa banyaknya rumah tangga yang gagal bukan dikarenakan tidak adanya jalinan asmara (cinta) melainkan kurangnya ilmu pengetahuan ketika menjalani rumah tangga tersebut.

Kita tahu bahwa cinta sifatnya dinamis bisa bertambah atau berkurang seiring berjalannya waktu, dan hal tersebut menjadi lumrah di kehidupan asmara setiap orang. Maka, sudah seharusnya kita perlu menjaga dan mencari cara bagaimana agar cinta selalu ada membersamai baik dalam suka maupun duka. Entah dengan cara memberikan momen spesial kepada pasangan, selalu mengingat momen atau kebaikan pasangan agar bisa bersama-sama berbagi rasa atau hal lain yang akan dikenang pasangan kita.

Islam Melarang Menghancurkan Hubungan Baik

Dalam Islam perselingkuhan dapat diartikan sebagai salah satu perlakuan merebut kebahagiaan orang lain, yang tentunya hal tersebut sangat dilarang bahkan bisa dikatakan hukumnya haram. Seperti halnya kutipan Hadist Abu Hurairah Ra.

“Bukan golongan kami (Nabi Muhammad Saw.) seseorang yang menghancurkan hubungan baik antara seorang istri dan suami dan atau seorang budak dengan majikannya.”

Dalam beberapa pendapat, dikatakan makna dalam Hadist tersebut adalah adanya indikasi atau niatan ingin menghancurkan hubungan seseorang, maka hal ini jelas terlarang dalam Islam.

Sebagai seorang manusia yang dianugerahi cinta oleh Sang Maha Cinta, sebenarnya tidak ada yang salah dengan cinta. Karena cinta adalah anugerah rasa yang mulia, maka sudah semestinya rasa cinta bisa membuat kita sebagai manusia yang memiliki banyak cinta kepada sesama dan siapa saja yang dekat dengan Sang Pencipta. Bukan menjadi hal yang sebaliknya, menjauhkan diri sebagai manusia yang angkuh akan cinta.

Oleh karena itu perasaan cinta sebenarnya akan mudah kita kenali. Yakni ketika ada seseorang yang terus menerus mengatakan cinta kepada kita. Namun tingkahlakunya tidak mencerminkan yang seharusnya, seperti halnya tingkah laku dan perbuatan sehari-harinya jauh dari perintah dan larangan Allah. Maka hal tersebut bisa kita pastikan yang ia katakan bukanlah cinta melainkan nafsu semata.

Baca juga :

Ingat, Ini 5 Tujuan Utama Pernikahan
Benarkah Menikah ada Batasan Usia? Yuk Simak Penjelasannya
Menikah Disebut Ibadah Terpanjang, Betulkah Demikian?
Perempuan Menolak Lamaran, Bagaimana dalam Hukum Islam?

Memahami Konteks Rumah Tangga

Seandainya saja setiap suami memahami konteks berumah tangga. Bagaimana ketika menjadi seorang suami yang memiliki tanggung jawab yang besar terhadap istri. Sebab ia harus menjaga, membimbing, memberikan kasih, menerapkan kesalingan dalam berumah tangga. Maka dia tidak akan mudah tergoda dengan perempuan lain yang hanya memunculkan rasa cinta sesaat saja.

Karena ketika suami mengucap ijab dalam sebuah pernikahan, itu artinya ia sudah menerima segala kebaikan dan kekurangan istrinya. Hal tersebut bukan hanya sebuah janji yang terucap di depan ayah atau wali nikah saja. Melainkan secara tidak langsung merupakan janji kepada Allah sebagai bentuk ibadah yang akan dijalaninnya.

Oleh karena itu, hal yang terpenting yang harus kita pelajari sebelum menikah adalah ilmunya. Karena dengan ilmu maka iman akan senantiasa mengiringi. Dan secara tidak langsung ketika iman dan ilmu itu sudah tertanam dalam sebuah pernikahan, maka keinginan untuk mencari sosok, dan cinta yang lain pun tidak akan pernah ada. Karena ketika setiap ada persoalan yang hadir dalam rumah tangga jika dikembalikan pada ilmu dan iman maka tidak akan ada keegoan di dalamnya.

Tak ada Pembenaran Apapun atas Nama Perselingkuhan

Ketika perselingkuhan itu terjadi dalam rumah tangga yang telah kita bangun sedemikian rupa, kemudian ada salah satu pihak yang berkhianat maka ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menyikapi hal tersebut.

Pertama, menerima keadaan yang telah terjadi dan senantiasa berpikir positif, karena yakinilah bahwa akan ada hikmah dalam setiap kejadian yang menimpa kita.

Kedua, sikapi dengan tenang, sembari cross check terlebih dahulu tentang kebenaran yang ada dengan pihak terkait. Namun, jangan terlalu menjadi seseorang yang oversharing kecuali untuk melaporkan pada pihak berwajib.

Dalam hal ini komunikasi adalah kunci, yakni saling berbagi cerita dan memberikan masukan kepada pasangan. Hal ini bertujuan untuk saling evaluasi diri, menjadi ruang muhasabah bagi kedua belah pihak. Tentu bukan berarti perempuan yang selalu disalahkan, dan berada pada posisi yang bisa direndahkan. Sehingga ini harus menjadi evaluasi bagi kedua belah pihak.

Atas alasan apapun pengkhianatan terhadap janji suci pernikahan tidak kita benarkan sama sekali. Oleh karena itu kita harus teliti dalam memilih pasangan. Sebab kita akan membersamainya sepanjang umur kita.

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
9FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini