Tuesday, October 4, 2022
spot_img
spot_img

Kompleks Sendang Duwur, Jejak Syiar Islam di Pesisir Utara Jawa Timur

Lamongan, Aktualiti.com – Kompleks Sendang Duwur merupakan salah satu situs bersejarah yang berada di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Pada kompleks tersebut terdapat makam dan juga masjid Sendang Duwur yang terbagi pada tiga halaman bertingkat.

Kompleks Sendang Duwur seringkali dijadikan tujuan wisata religi di pesisir utara Jawa Timur. Di kompleks tersebut terdapat masjid yang dibangun oleh Sunan Sendang Duwur dan juga makam Sunan Sendang Duwur beserta keluarga dan pengikutnya.

Sunan Sendang Duwur merupakan salah satu wali yang turut menyebarkan agama Islam di pulau Jawa.

Syiar Islam Sunan Sendang Duwur dan Sejarah Masjid Sendang Duwur

Kompleks Sendang Duwur semakin ramai dikunjungi oleh beberapa kalangan, terutama yang ingin berwisata religi. Karena di tempat tersebut terdapat peninggalan sejarah dari salah satu wali yang berpengaruh dalam syiar agama Islam di Jawa.

Hal tersebut tidak dapat dipungkiri bahwa sejarah penyebaran agama Islam di pulau Jawa erat kaitannya dengan sejarah Sunan Sendang Duwur. Bukti – bukti peninggalan yang masih ada sampai hari ini memberikan gambaran mengenai kiprah dari Sunan Sendang Duwur.

Selain itu, data dari berbagai sumber juga menyebutkan bahwa masjid Sendang Duwur menyimpan sejarah yang berbeda dengan masjid lainnya. Hal itu disebabkan bahwa pembangunanya melalui kemukjizatan yang hanya dimiliki oleh para wali.

Terdapat cerita versi lain dalam pembangunan masjid Sendang Duwur. Bahwa masjid tersebut dibawa oleh rombongan yang diperintahkan Sunan Drajat dan Sunan Sendang Duwur melewati laut dari Mantingan menuju timur dalam satu malam.

Kemudian rombongan itu diminta mendarat di pantai penuh bebatuan mirip kodok yang sekarang bernama WBL (Tanjung Kodok), terletak di sebelah utara bukit Amitunon di Sendang Duwur.

Setelah sampai di tempat tersebut, kemudian rombongan disambut Sunan Drajat dan Sunan Sendang Duwur beserta pengikutnya.

Sebelum meneruskan perjalanan membawa masjid ke bukit Amitunon, rombongan itu diminta istirahat karena lelah sehabis menunaikan tugas berat.

Baca juga : Sejarah Peringatan Satu Suro dan Maknanya bagi Masyarakat Jawa

Saat beristirahat, Sunan memberi jamuan berupa kupat atau ketupat dan lepet serta legen, minuman khas daerah setempat.

Berawal dari cerita ini, setiap tahun di Tanjung Kodok digelar upacara kupatan.

Sunan Sendang Duwur

Sunan Sendang Duwur yang bernama asli Raden Nur Rahmad merupakan putra Abdul Qohar bin Malik bin Syekh Abu Yazid Al Baghdi (keturunan raja raja Persia di Irak) dengan Dewi Sukarsih (puteri Tumenggung Joyo di Sedayu Lawas). Lahir pada tahun 1320M dan wafat pada tahun 1585M.

Pada awalnya Sunan Sendang Duwur tinggal di Desa Sedayu Lawas, tetapi setelah ayahnya wafat dia kemudian berpindah ke dusun Tunon untuk menyebarkan agama Islam di daerah tersebut.

Sunan Sendang Duwur merupakan salah satu tokoh penyebar agama Islam yang pengaruhnya disejajarkan dengan Wali Songo. Dia juga memiliki karomah dapat memindahkan masjid dalam satu malam.

Kompleks Sunan Sendang Duwur

Dalam bahasa Jawa, “Sendang Duwur” memiliki arti kolam kecil yang berada di atas bukit. Kata “duwur” merupakan pembeda ketinggian dengan desa disekitarnya yang juga memiliki kaya “Sendang”. (Tjandrasasmita, 1960)

Kompleks Sendang duwur terdiri dari makam dan masjid Sendang Duwur. Masjid Sendang Duwur memiliki dengan segi empat dan menghadap ke arah timur.

Bangunanya sendiri terbuat dari bata dan kayu, memiliki atap tumpang tiga susun, dan memiliki mustaka di puncak atap. Masjid ini juga memiliki ukuran ruang utama 256 m² dengan empat dinding pembatas dan 17 tiang penopang.

Pada serambi masjid terdapat sebuah papan kayu yang bergantung di balik serambi yang memiliki tulisan candrasangkala, yaitu Guhaning Sarira Tirta Hayu (1483 S = 1561 M).

Kompleks makam Sendang Duwur terdiri dari empat halaman yang tersusun dengan pola kebelangkang tidak satu poros. Makam Sunan Sendang terletak di halaman III.

Di komplek makam terdapat enam gapura terbuat dari susunan balok teras. Pada cungkup makamnya dipahatkan angka tahun dalam aksara Jawa 1507 S (1585 M). Hiasan yang terdapat pada makam ini antara lain berupa motif sulur-suluran, bunga, geometri, dan tumbuhan lain.

Reporter : Masning Salamah
Editor : Mochamad Nur Habib

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini