Tuesday, October 4, 2022
spot_img
spot_img

Mendalami Serat Wedhatama, Sebuah Ajaran Moralitas Islam Jawa

Jakarta, Aktualiti.com – Serat Wedhatama merupakan karya sastra Jawa baru yang tergolong karya legendaris dan sedikit dipengaruhi agama Islam. Serat ini mengandung banyak ajaran mengenai kehidupan manusia dan dianggap masih relevan sampai saat ini.

Bentuk Serat Wedhatama adalah tembang macapat yang terdiri dari 100 pupuh. Terbagi kedalam lima lagu, yaitu 14 pupuh Pangkur, 18 pupuh Sinom, 15 pupuh Pocung, 35 pupuh Gambuh, dan 18 pupuh Kinanthi.

Wedhatama berasal dari dua kata yaitu Weda yang artinya ajaran dan Tama yang artinya utama. Sehingga Wedhatama memiliki arti ajaran yang utama bagi manusia dan masih relevan sampai saat ini.

Kata Wedhatama terbentuk dari zaman yang berbeda. Kata Weda dari bahasa Sanskerta yang pernah digunakan oleh orang Jawa. Selain itu ada pula kebudayaan Hindu yang prinsipnya kuat bagi masyarakat Jawa.

Baca juga : Menyelami Islam Kejawen, Sebuah Akulturasi Budaya Lokal dan Agama

Sehingga kata Weda tersebut digunakan dalam penamaan serat, karena penulisnya ingin menyisipkan semangat bahwa Wedhatama merupakan karangan yang sakral, seperti kesakralan kitab Weda bagi agama Hindu. Sehingga isi – isi dari serat Wedhatama mengenai ajaran moral yang bersendikan religius. Selain dipengaruhi oleh budaya Hindu, serat Wedhatama juga dipengaruhi unsur keislaman. Sehingga layak digunakan sebagai tuntunan kehidupan.

Isi dari Serat Wedhatama berupa falsafah kehidupan yang menggabungkan nilai – nilai Jawa dan Islam. Seperti cara menganut agama dengan bijak dan cara menjadi manusia seutuhnya. Isi Serat Wedhatama yaitu mengenai ajaran – ajaran berbudi luhur, serta mengenai hubungan dengan Tuhan. Budi luhur merupakan persamaan kata dengan budi pekerti yang artinya mengarah pada akhlak dalam Islam.

Serat Wedhatama dianggap mempunyai karakteristik mistik yang kuat dalam falsafah kehidupan, atau bisa disebut dengan moralistis – didaktis yang dipengaruhi oleh ajaran Islam. Maksudnya adalah serat tersebut merupakan ajaran yang dikemas dengan sangat menarik dan berisi mengenai moral.

Konon, Serat Wedhatama diciptakan karena terpengaruh dari gerakan pemurnian Islam yang marak pada saat itu. Sebagai suatu kritik pada konsep pengajaran Islam yang ortodoks sehingga mampu mencerminkan pergulatan budaya Jawa dengan pemurnian Islam.

Terdapat suatu persamaan antara Serat Wedhatama dengan ajaran tasawuf dalam Islam, yaitu sama – sama mengajarkan tentang akhlak dan budi luhur yang harus dicapai melalui beberapa cara. Serat Wedhatama terbagi menjadi 4 lagu dengan pemaknaan masing – masing.

Pertama adalah Pangkur yang berasal dari kata mangkur dengan memiliki makna bahwa ketika berdakwah dilarang untuk menyimpang dari ajaran Islam, tetapi harus bisa menghindari sesuatu yang tidak baik. Kedua yaitu Sinom yang berasal dari kata daun muda dengan memiliki arti bahwa anak muda harus mempunyai pegangan yang harus diikuti. Ketiga yaitu Pocung yang berasal dari kata di pocung dengan memiliki arti bagaimana seseorang mempersiapkan kematian dengan ibadah yang bersungguh – sungguh. Terakhir yaitu Gambuh yang menggambarkan perjalanan hidup manusia dengan beribadah secara lahir dan batin.

Baca juga : Kompleks Sendang Duwur, Jejak Syiar Islam di Pesisir Utara Jawa Timur

Penulis Serat Wedhatama yang dikenal secara formal adalah Raden Mas Sudiro yang bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (K.G.P.A.A) Mangkunegara IV. Lahir pada 1 Sapar tahun Jimakir 1736 windu Sancaya atau tanggal 3 Maret 1811.

Mangkunegara IV merupakan putra dari Kanjeng Pangeran Harya Hadiwijaya I, cucu dari Bandara Raden Mas Tumenggung Harya Kusumadiningrat, dan cicit dari Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Hadiwijaya. Ibunya adalah puteri Mangkunegara II. KGPPA Mangkunegara IV, merupakan raja yang memerintah Praja Mangkunegaran dari 1853 – 1881

Dalam versi lain, terdapat pendapat bahwa Serat Wedhatama ditulis oleh R. Ng. Ranggawarsita. Hal tersebut disebabkan adanya wileda kata demi kata yang indah dan mudah dihafal, yang menjadi ciri khas pujangga Ranggawarsita.

Ranggawarsita dan Mangkunegara IV merupakan sahabat baik. Keduanya mempunyai kelebihan masing – masing. Ranggawarsita ahli dalam bahasa dan sastra, Mangkunegara IV ahli dalam filsafat Jawa. Ada kemungkinan bahwa Serat Wedhatama merupakan kolaborasi keduanya. Akan tetapi mengenai penulis dari Serat Wedhatama menggunakan nama Mangkunegara IV karena konsep kepatuhan Ranggawarsita kepada Mangkunegara IV.

Reporter: Masning Salamah

Sumber : Nilai-Nilai Islam dalam Serat Wedhatama karya Sri Mangkunegara IV 

 

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini