Thursday, September 29, 2022
spot_img
spot_img

Mendalami Suluk Linglung, Ajaran Makrifat Sunan Kalijaga

Jakarta, Aktualiti.com – Suluk Linglung merupakan suatu karya sastra yang berisi mengenai sejarah Sunan Kalijaga yang hidup di masa Sunan Gunung Jati. Mengenai kisah Sunan Kalijaga ketika brandal, kemudian bertemu dengan Sunan Bonang, dan akhirnya berguru dengan guru Sejati, yaitu Nabi Khidir.

Sulung Linglung merupakan ajaran mistisisme atau ajaran sufi karya Sunan Kalijaga. Ajaran makrifat Sunan Kalijaga ini berdasarkan kitab Duryat yang kemudian digubah oleh Imam Anom menjadi Suluk Linglung.

Dalam Suluk Linglung dijelaskan secara detail mengenai perjalanan Sunan Kalijaga dalam mencari iman hidayat. Juga mencerminkan sifat kaffahnya Sunan Kalijaga terhadap agama Islam, yang pada mulanya menentang.

Suluk Linglung juga menjelaskan bahwa Tuhan adalah dzat yang sebenarnya, sehingga tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Banyak kata yang digunakan untuk penyebutan Tuhan, seperti Allah, Hyang Widhi, Gusti Kang Murbeng Dumadi, hal ini membuktikan bahwa Sunan Kalijaga memiliki konsep Monoteisme yang luas.

Suluk Linglung berisi mengenai ajaran makrifat dari pencapaian Sunan Kalijaga yang paling tinggi, juga mengenai perjalanan spiritual Sunan Kalijaga. Terdapat pula ajaran spiritual Sunan Kalijaga yang lebih lengkap, yaitu pada Serat Dewa Ruci.

Baca juga : Sunan Kalijaga, Sosok Ulama sekaligus Seniman Tanah Jawa

Secara etimologi, suluk merupakan jalan menuju kesempurnaan batin. Jika dilihat dari pandangan tasawuf, sulu memiliki arti khalwat atau menyendiri dan melakukan pengasingan. Sedangkan jika dilihat sebagai kesusastraan Jawa, suluk bermakna falsafah kehidupan, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan.

Linglung dalam khazanah Jawa memiliki arti bingung. Bingung ini bermakna sesuatu yang tidak memiliki kepastian. Hal tersebut menggambarkan keadaan Sunan Kalijaga yang mengalami dua keadaan berbeda. Yaitu sebagai anak bangsawan dan sebagai perampok.

Suluk Linglung ini kemudian mulai banyak dikaji oleh para peneliti dan akademisi. Saat ini Suluk Linglung menjadi warisan berharga dari Kasepuhan Kadilangu Demak.

Ajaran makrifat Sunan Kalijaga menekankan mengenai pentingnya menjalankan syariat Islam. Karena merupakan jalur utama menuju ajaran yang sesungguhnya.

Setelah sempurna menjalankan syariat Islam, Sunan Kalijaga kemudian mengajarkan pentingnya kesadaran diri dengan cara tirakat dan perenungan diri. Tirakat dalam ajaran tasawuf merupakan jalan menuju Allah SWT.

Terdapat berbagai aspek mistisme dalam Suluk Linglung. Ajaran tersebut seperti ilmu sejati, konsep suluk, nafsu, dan konsep mengenai nur Muhammad. Dalam beritarakat juga, Sunan Kalijaga mengajarkan mengenai pentingnya bertapa atau menahan nafsu.

Suluk linglung dibagi menjadi 6 bagian. Bagian pertama terdiri atas 8 pupuh Dhandhanggula. Bagian kedua terdiri atas 23 pupuh Asmarandana. Bagian ketiga terdiri atas 22 pupuh Durma. Bagian keempat terdiri atas 26 pupuh Dhandhanggula. Bagian kelima terdiri atas 27 pupuh Kinanti. Bagian keenam terdiri atas 52 pupuh Dhandhanggula.

Dari keenam episode tadi, Sunan Kalijaga menulis cerita hidupnya dalam 3 bagian. Bagian pertama ketika masih belajar agama Islam. Bagian kedua ketika jatuh cinta kepada ajaran Islam. Bagian terakhir menceritakan ajaran Nabi Khidir yang merupakan cerita terpanjang dari keseluruhan Suluk Linglung.

Berikut kutipan dan arti dari wejangan Nabi Khidir kepada Sunan Kalijaga yang terdapat dalam Suluk Linglung:
Birahi ananireku,
aranira Allah jati.
Tanana kalih tetiga,
sapa wruha yen wus dadi,
ingsun weruh pesti nora,
ngarani nama nireki

Baca juga : Mendalami Serat Wedhatama, Sebuah Ajaran Moralitas Islam Jawa

Timbullah hasrat kehendak Allah menjadikan terwujudnya dirimu; dengan adanya wujud dirimu menunjukkan akan adanya Allah dengan sesungguhnya; Allah itu tidak mungkin ada dua apalagi tiga. Siapa yang mengetahui asal muasal kejadian dirinya, saya berani memastikan bahwa orang itu tidak akan membanggakan dirinya sendiri.

Sipat jamal ta puniku,
ingkang kinen angarani,
pepakane ana ika,
akon ngarani puniki,
iya Allah angandika,
mring Muhammad kang kekasih.

Adapun sifat jamal (sifat terpuji/bagus) itu ialah, sifat yang selalu berusaha menyebutkan, bahwa pada dasarnya adanya dirinya, karena ada yang mewujudkan adanya. Demikianlah yang difirmankan Allah kepada Nabi Muhammad yang menjadi Kekasih-Nya.

Yen tanana sira iku,
ingsun tanana ngarani,
mung sira ngarani ing wang,
dene tunggal lan sireki iya Ingsun iya sira,
aranira aran mami.

Kalau tidak ada dirimu, Allah tidak dikenal/disebut-sebut; Hanya dengan sebab ada kamulah yang menyebutkan keberadaan-Ku; Sehingga kelihatan seolah-olah satu dengan dirimu. Adanya AKU, Allah, menjadikan dirimu. Wujudmu menunjukkan adanya Dzat Ku.

Tauhid hidayat sireku,
tunggal lawan Sang Hyang Widhi,
tunggal sira lawan Allah,
uga donya uga akhir,
ya rumangsana pangeran,
ya ALLOH ana nireki.

Tauhid hidayah yang sudah ada padamu, menyatu dengan Tuhan. Menyatu dengan Allah, baik di dunia maupun di akherat. Dan kamu merasa bahwa Allah itu ada dalam dirimu.

Ruh idhofi neng sireku,
makrifat ya den arani,
uripe ingaranan Syahdat,
urip tunggil jroning urip sujud rukuk pangasonya,
rukuk pamore Hyang Widhi.

Ruh idhofi ada dalam dirimu. Makrifat sebutannya. Hidupnya disebut Syahadat (kesaksian), hidup tunggal dalam hidup. Sujud rukuk sebagai penghiasnya. Rukuk berarti dekat dengan Tuhan pilihan.

Sekarat tananamu nyamur,
ja melu yen sira wedi,
lan ja melu-melu Allah,
iku aran sakaratil,
ruh idhofi mati tannana,
urip mati mati urip.

Penderitaan yang selalu menyertai menjelang ajal (sekarat) tidak terjadi padamu. Jangan takut menghadapi sakaratul maut, dan jangan ikut-ikutan takut menjelang pertemuanmu dengan Allah. Perasaan takut itulah yang disebut dengan sekarat. Ruh idhofi tak akan mati; Hidup mati, mati hidup.

Liring mati sajroning ngahurip,
iya urip sajtoning pejah,
urip bae selawase,
kang mati nepsu iku,
badan dhohir ingkang nglakoni,
katampan badan kang nyata,
pamore sawujud, pagene ngrasa matiya,
Syekh Malaya (Sunan Kalijogo) den padhang sira nampani,
Wahyu prapta nugraha.

Mati di dalam kehidupan. Atau sama dengan hidup dalam kematian. Ialah hidup abadi. Yang mati itu nafsunya. Lahiriah badan yang menjalani mati. Tertimpa pada jasad yang sebenarnya. Kenyataannya satu wujud. Raga sirna, sukma muksa. Jelasnya mengalami kematian! Syeh Malaya (S.Kalijaga), terimalah hal ini sebagai ajaranku dengan hatimu yang lapang. Anugerah berupa wahyu akan datang padamu.

Reporter: Masning Salamah

Editor : M Nur Habib

Sumber : Ajaran Sunan Kalijaga tentang Makrifat dalam Suluk Linglung,

SULUK LINGLUNG, 5 Nasihat Nabi Khidir AS Untuk Sunan Kalijaga, Hidup di Masa Sunan Gunung Jati – Portal Majalengka

Sunan Kalijaga (4): Dari Pakaian Takwa Sampai Suluk Linglung

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini