Saturday, October 1, 2022
spot_img
spot_img

Menelusuri Pesantren Giri Kedaton, Jejak Peradaban Islam di Jawa Timur

Gresik, Aktualiti.com – Giri Kedaton merupakan kerajaan Islam sekaligus pesantren yang terletak di Kota Gresik Jawa Timur. Kerajaan ini didirikan oleh Sunan Giri, salah satu Wali Songo pada 1481 – 1506M, yakni pada abad ke-15 dan berhasil merdeka dari Kerajaan Majapahit.

Giri Kedaton terletak di puncak bukit di Kelurahan Sidomukti, Kebomas, Gresik. Sekitar 200 meter dari kompleks makam Sunan Giri. Ketinggiannya sekitar 77 MDPL.

Giri Kedaton awalnya merupakan pesantren yang dibangun oleh Sunan Giri atas pemberian dan perintah ayahnya, yaitu Syekh Maulana Ishaq. Pesantren tersebut dibangun pada 1481 oleh Sunan Giri, beserta kedua utusan ayahnya, yaitu Syekh Grigis dan Syekh Koja.

Wilayah pesantren tersebut berada di Kebomas, Gresik, yang akhirnya dikenal dengan nama Giri. Menurut cerita yang beredar, Giri Kedaton menjadi tempat pengukuhan raja – raja Islam dari Demak hingga Pajang.

Baca juga : Menjelajah Bukit Surowiti, Petilasan Sunan Kalijaga di Pesisir Utara Jawa Timur

Wilayah tersebut sebenarnya merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit yang memiliki status otonom. Kesempatan itu membuat Sunan Giri memiliki peluang untuk mendirikan pemerintahan kecil di daerah pesantren.

Setelah pemerintahan tersebut berdiri, Giri Kedaton memisahkan diri dari Majapahit. Penguasa pertamanya adalah Sunan Giri yang bergelar Prabu Satmata atau Sultan Abdul Faqih pada masa kepemimpinan (1487 – 1506M).

Giri Kedaton yang disebut – sebut sebagai Kerajaan ulama ini terus berlanjut secara turun temurun. Hingga kemudian ditaklukan oleh Kesultanan Mataram yang saat itu dipimpin oleh Sultan Agung (1613 – 1645 M). Sehingga statusnya bukan lagi sebagai kerajaan mandiri lagi melainkan sebuah wilayah taklukan.

Saat ini Giri Kedaton ditetapkan sebagai sebuah situs cagar budaya. Bentuk bangunannya berupa bukit berundak, semakin ke atas semakin kecil. Bangunannya terdiri atas lima teras, dengan penanda antar terasnya berupa struktur dinding teras.

Puncak dari bangunan ini diletakkan batu menhir. Konsep pemilihan tempat di ketinggian ini seperti tempat suci pada zaman prasejarah dan kerajaan Hindu – Budha, yang dilanjutkan hingga zaman kerajaan Islam di Jawa.

Reporter : Masning Salamah

Editor : Mochamad Nur Habib

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini