Monday, September 26, 2022
spot_img
spot_img

Menikah Disebut Ibadah Terpanjang, Betulkah Demikian?

Jakarta, Aktualiti.com- Lagi-lagi, kita kerap kali mendengar tebaran kalimat “Selamat Menempuh Ibadah Terpanjang” disaat momentum sakral sebuah pernikahan.

Tak dapat dipungiri bahwa pernikahan adalah impian banyak orang untuk menikmati ibadah terindah dengan pasangan kita. Yakni menghabiskan waktu menjadi sebuah pahala.

Hal ini pun kemudian dikaitkan dengan Hadist-hadist roman yang menjanjikan pahala menggiurkan bagi suami atau istri konteksnya adalah dalam rangka membahagiakan diri dan orang lain.

Sahabat Anas bin Malik meriwayatkan,

مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّينِ فَلْيَتَّقِ اللَّهَ فِي النِّصْفِ الثَّانِي

“Barang siapa menikah maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah kepada Allah Swt pada separuh yang kedua”.

Baca juga selengkapnya : Ingat, Ini 5 Tujuan Utama Pernikahan

Kendati demikian, sebuah pernikahan adalah bentuk melindungi diri dari Zina.

Imam al-Qurthubī menjelaskan bahwa menikah dapat melindungi dari zina, menjaga kehormatan dari zina termasuk amal yang mendapat jaminan surga dari Rasulullah.

Artinya, waktu yang kita gunakan untuk melindungi keluarga dari zina, menjaga kehormatan, merupakan ibadah dan bertakwalah pada Allah pada “waktu” lain yang tidak kita isi dengan ibadah.

Secara tekstual, hadist ini cukup menggiurkan, menikah adalah pintu menyempurnakan separuh iman, dengan iman seorang muslim bisa masuk surga. Kita bisa lihat betapa semangat seorang muslim menumpuk pahala untuk meraih surga.

Amalan-amalan yang pahalanya beribu kali lipat lebih banyak pasti kita kerjakan mati-matian, tak lain karena adanya kesadaran bahwa secara umum usia umat Nabi Muhammad jarang sekali yang sampai 100 tahun lamanya.

Maka tak heran jika menikah yang dikatakan oleh Nabi “…. telah menyempurnakan separuh agama” dengan jumawa kita telan mentah-mentah oleh sebagian muslim. Seakan berkata “agamaku sudah separuh sempurna, hanya dengan mengucap ‘qabiltu’”

Namun menikah bukan hanya sebatas itu, ada kehidupan anggota keluarga yang harus kita penuhi hak-haknya, mengusahakan relasi saling membantu, saling musyawarah, saling merelakan, saling berbagi, saling memahami, sebab selalu ada masalah dalam rumah tangga bahkan yang unpredictable dan itu membutuhkan manajemen konflik yang berkesinambungan.

Jika berhasil menghadapinya maka itulah sebuah ibadah.

Baca juga : Perempuan Menolak Lamaran, Bagaimana dalam Hukum Islam?

Hadist ini dalam Faidlu al-Qadīr dijelaskan lebih rinci, lafad فَقَدِ اسْتَكْمَلَ adalah jawab pertama dari syarat مَنْ تَزَوَّجَ sedangkan lafad فَلْيَتَّقِ اللَّهَ adalah jawab kedua.

Sehingga membaca hadist ini tidak bisa kita potong, karena makna yang purna adalah, dengan menikah separuh iman telah terpenuhi (karena value agama kita bisa dilihat dari penjagaan terhadap farji dan perut dan hal itu terbentengi dengan menikah).

Lalu dengan menikah pula seorang mukmin harus bertakwa (menjaga) separuh iman yang lain.

Yaitu berupa akhlak, budi pekerti dan karakter luhur pada diri sendiri, pasangan, anak dan tetangga.

Maka bisa kita pahami bahwa pernikahan adalah ibadah terpanjang, yakni dengan berbagai persoalan yang menyelimuti.
Wallahu a’lam.

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini