Friday, September 30, 2022
spot_img
spot_img

Bahaya Khitan Perempuan, Begini Penjelasannya

Jakarta, Aktualiti.com- Lagi-lagi fenomena kasus khitan pada perempuan selalu menjadi topik hangat untuk diperbincangkan, bahkan hingga sekarang ini masih banyak dari kita yang berdebat akan pro dan kontra khitan (sunat) bagi perempuan.

Mirisnya, masyarakat awam menganggap bahwa khitan perempuan merupakan suatu kemuliaan yang mempunyai beragam manfaat, baik dalam anggapan menetralisir syahwat perempuan yang berlebih, dapat membersihkan kelamin, dapat menambah kenikmatan ketika berhubungan suami istri, dan juga dapat menyeimbangkan antara laki-laki dan perempuan.

Benarkah hal demikian dibenarkan dalam Islam? Mari kita simak penjelasan selanjutnya.

Menurut Pandangan Dokter Terkait Khitan Perempuan

Dilansir dari Aladokter (2022), bahwa khitan bagi perempuan secara fakta kesehatan tidak memiliki manfaat apapun.

Justru sebaliknya yakni menimbulkan masalah kesehatan mental, kista, pendarahan, gangguan pada saat melalukan hubungan seks, nyeri terus menerus, infeksi, gangguan berkemih, dan gangguan dalam persalinan.

Baca juga : Ingat, Ini 5 Tujuan Utama Pernikahan

Pandangan Ulama tentang Bahaya Khitan Pada Perempuan

Dalam fikih klasik, mazhab syafi’i dan Hambali memandang hukum khitan bagi laki-laki hukumnya wajib, sementara Hanafi dan Maliki menghukumi khitan perempuan sebagai hal yang sifatnya sunnah.

Sementara khitan bagi perempuan hukumnya wajib menurut Mazhab Syafi’i, dan hukumnya makruh menurut tiga mazhab yang lain.

Selain itu, dalam fikih kontemporer para ulama juga mengembangkan ijtihad ulang yang baru.

Fatwa MUI tahun 2008 memandang bahwa khitan perempuan sebagai bagian dari syi’ar Islam yang tidak boleh dilarang, tetapi juga tidak wajib dilakukan.

Jikapun dilakukan harus dengan syarat ketat tidak menimbulkan dharar (dampak buruk dan rusak).

Adapun pendapat yang mengatakan sunnah, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad :

عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ بْنِ أُسَامَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ الْخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرِّجَالِ مَكْرُمَةٌ لِلنِّسَاءِ

Dari Abu al-Malih bin Usamah, dari Ayahnya: “Sungguh Nabi Saw. bersabda: “Khitan itu hukumnya sunnah bagi para lelaki dan kemuliaan bagi para perempuan.” (HR. Ahmad)

Kata sunnah yang dikehendaki disini bukan berarti lawan kata wajib.

Sebab kata sunnah apabila dipakai dalam sebuah hadits, maka tidak dimaksud sebagai lawan kata wajib.

Namun lebih menunjukkan persoalan membedakan antara hukum laki-laki dan perempuan.

Dengan begitu, arti kata sunnah dan kata makrumah dalam hadits tersebut maksudnya adalah laki-laki lebih dianjurkan berkhitan dibanding perempuan.

Sehingga bisa diartikan bahwa laki-laki wajib berkhitan dan tidak wajib bagi perempuan (apabila dipaksakan, hal ini dikhawatirkan dapat mendatangkan kemafsadatan). Atau wajib bagi laki-laki dan tidak dianjurkan bagi perempuan.

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini