Friday, September 30, 2022
spot_img
spot_img

Menyelami Islam Kejawen, Sebuah Akulturasi Budaya Lokal dan Agama

Jakarta, Aktualiti.com- Ajaran para leluhur masyarakat Jawa yang telah melekat sejak ratusan tahun dengan agama Islam sebagai pendatang, sehingga menciptakan akulturasi budaya baru yang disebut dengan Islam Kejawen. Islam Kejawen tersebut diperkirakan lahir di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Kejawen berasal dari kata dalam bahasa Jawa yang artinya segala sesuatu yang memiliki hubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa. Pendapat secara umum menyebutkan bahwa Kejawen termasuk seni, budaya, ritual, sikap, tradisi dan filosofi orang – orang Jawa.

Kejawen dapat dilihat sebagai pandangan hidup yang kemudian diikuti dengan perilaku agama Islam, itulah yang disebut sebagai Islam Kejawen. Islam kejawen merupakan aliran Kejawen yang mengikuti cara pandang Sultan Agung Mataram yang merupakan filsuf yang menjadi awal Islam Kejawen dan mempengaruhi tradisi – tradisi di hari penting.

Baca juga : Menelusuri Pesantren Giri Kedaton, Jejak Peradaban Islam di Jawa Timur

Orang awam seringkali memahami Islam Kejawen secara setengah – setengah. Hal tersebut juga sering dikaitkan dengan aliran yang berbau mistik, klenik, dan bersifat ghaib. Bahkan tak sedikit pula orang awam yang menganggap bahwa perilaku Islam Kejawen merupakan perilaku yang musyrik.

Kemunculan ajaran Islam Kejawen tidak dapat dilepaskan dengan sejarah berdirinya kesultanan Islam di Demak dan Mataram. Kalangan keraton mengusahakan untuk menyebarkan agama Islam dengan tetap mempertahankan ajaran leluhur. Sehingga munculah Islam Kejawen sebuah cara untuk menyinkronkan ajaran leluhur dengan agama Islam yang mendapat atensi rakyat masa lalu.

Kalangan keraton kemudian mengadaptasi Islam ke dalam macapat yang mudah diucapkan oleh masyarakat. Kadang kala juga sengaja disamarkan sehingga nila sastrawi sekaligus magisnya lebih kuat.

Dalam ajaran Islam Kejawen, lebih mengutamakan segi batin daripada segi fisik, sehingga menekankan ibadah dengan rasa untuk mencapai kesempurnaan. Ketika rasa semakin tinggi, maka semakin tajam pula kebenaran dalam kesempurnaan tersebut.

Baca juga : Menjelajah Bukit Surowiti, Petilasan Sunan Kalijaga di Pesisir Utara Jawa Timur

Laku dan rasa memang sangat ditekankan dalam tradisi Islam Kejawen. Tetapi masyarakat penganut Islam Kejawen juga penting untuk melakukan sembahyang. Sembahyang merupakan terminologi Jawa kuno yang memiliki arti menyembah kepada Tuhan, atau dalam Islam dikenal dengan sebutan sholat.

Islam Kejawen yang dilahirkan oleh tradisi besar keraton Jawa tetap menganggap bahwa sholat merupakan hal penting bagi kehidupan manusia. Pada masa pemerintahan Paku Buwana III, menganggap bahwa sholat merupakan rukun agama yang dapat menghindarkan diri dari sifat – sifat tercela. Sholat juga dijadikan sebagai salah satu ngelmu dan laku bagi masyarakat Islam Kejawen.

Sampai saat ini masih terdapat masyarakat Jawa yang menjalankan tradisi – tradisi Islam Kejawen. Tradisi tersebut seperti Mitoni, yang ditujukan kepada wanita yang sedang mengandung bayi ketika menginjak usia 7 bulan. Tradisi Nyandran, yaitu upacara yang dilakukan masyarakat Jawa dalam menyambut bulan puasa, biasanya dilakukan dengan cara berziarah ke makam. Serta masih banyak tradisi Islam Kejawen yang masih lestari hingga hari ini.

Terdapat tokoh – tokoh Islam Kejawen yang terkenal, diantaranya adalah Sunan Kalijaga yang sangat membantu terciptanya proses akulturasi antara agama Islam dengan budaya Jawa. Sehingga masyarakat Jawa yang memeluk agama Islam tidak merasa jauh dengan budaya leluhur. Selain itu Sunan Kalijaga juga menyusun beberapa doa dalam bahasa Jawa yang berupa kidung atau mantra.

Selain Sunan Kalijaga, terdapat pula tokoh Islam Kejawen yang kontroversial, yakni Syekh Siti Jenar. Merupakan seorang tokoh Islam yang ahli ilmu Kejawen pada masa Kerajaan Demak Bintara. Ajaran – ajaranya mengenai ilmu kesempurnaan yang diwariskan secara turun temurun. Harapannya adalah tiap manusia memahami sangkan paraning dumadi atau cara manusia bersikap dalam menjalani kehidupan.

Editor : M Nur Habib

Reporter: Masning Salamah

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini