Saturday, October 1, 2022
spot_img
spot_img

Menyusuri Kompleks Makam Troloyo, Pemakaman Islam di Tengah Situs Kerajaan Majapahit

Mojokerto, Aktualiti.com – Makam Troloyo di Mojokerto merupakan pemakaman bagi orang muslim sejak zaman kerajaan Majapahit. Kompleks makam ini terkenal karena terdapat makam Syekh Jumadil Kubro, kakek dari Walisongo. Makam ini memiliki luas 152.000 kaki persegi. Terletak di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, serta sudah ada sejak abad ke-14.

Makam ini digunakan untuk memakamkan orang muslim yang memiliki hubungan trah dengan Majapahit. Tokoh yang terakhir dimakamkan di kompleks makam Troloyo adalah Pangeran Mojoagung. Selain itu, adanya makam Islam di tengah – tengah situs warisan kebudayaan Majapahit yang bercorak Hindu – Budha menunjukan suatu keunikan tersendiri, terlebih tempatnya berada di pusat kerajaan Majapahit. Sehingga keberadaanya dimuliakan oleh penduduk setempat, bahkan ketika pengaruh Majapahit masih sangat kuat.

Di kompleks makam Troloyo ditemukan beberapa batu nisan bercorak Islam dengan angka tahun 1350 dan 1478. Selain itu, terdapat 19 nama tokoh yang dimakamkan di kompleks Troloyo. Diantaranya adalah Syekh Al Chusen, Imamudin Sofari, Tumenggung Satim Singomoyo, Patas Angin, Nyai Roro Kepyur, Syekh Jumadil Kubro, Sunan Ngudung, Raden Kumdowo, Ki Ageng Surgi, Syekh Jaelani, Syekh Qohar, dan Ratu Ayu Kenconowungu.

Diantara belasan makam tersebut, makam Syekh Jumadil Kubro yang paling sering dikunjungi peziarah. Syekh Jumadil Kubro sering disebutkan dalam berbagai babad dan cerita rakyat sebagai salah seorang pelopor penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Sehingga para peziarah ingin mendapat berkah dari makam tersebut. Makam Syekh Jumadil Kubro memiliki luas 35 kaki persegi dan dinaungi oleh cukup, dan lantainya tersusun oleh batu bata.

Baca juga: Menjelajah Bukit Surowiti, Petilasan Sunan Kalijaga di Pesisir Utara Jawa Timur

Mengenai penanaman makam Troloyo, berasal dari kata Citra Pralaya. Citra memiliki arti tanah yang luas. Laya memiliki arti Pati. Sehingga jika digabungkan berarti tanah luas yang digunakan untuk orang – orang yang sudah meninggal dan menjadi muslim. Akan tetapi, orang – orang Jawa sulit untuk mengatakan Citra Pralaya. Sehingga pengucapannya disingkat menjadi Troloyo.
Bentuk bangunan makam Troloyo sendiri, di masa lalu malam ini memiliki 4 plataran atau kompleks makam yang cukup luas dengan 2 kompleks lainnya lebih kecil. Setiap kompleksnya dibangun tembok batu bata yang mengelilinginya.

Tembok yang digunakan pada kompleks makam Troloyo merupakan khas Majapahit yang kokoh dengan tinggi sekitar 5 kaki. Setiap pelataran juga memiliki pintu masuk dan dihubungkan dengan jalan setapak. Selain itu, jalur masuk dan jalur keluar kompleks makam sengaja dibedakan, tujuannya agar peziarah tidak bertabrakan.

Di pinggir kompleks makam juga tumbuh beberapa pohon beringin yang usianya mencapai ratusan tahun. Pohon beringin tersebut seringkali dijadikan latar foto para peziarah.

Puncak kepadatan makam Troloyo biasanya pada malam Jumat Legi, hari peringatan Haul Syekh Jumadil Kubro, dan Grebeg Suro. Selain pengunjung dari masyarakat biasa, terdapat pula pejabat negara yang berziarah ke makam Troloyo.

Di area kompleks makam Troloyo juga terdapat sumur dengan kedalaman 5 meter yang airnya tidak pernah kering. Konon katanya, sumur tersebut merupakan jejak peninggalan dari Tumenggung Satim Singomoyo. Tumenggung Satim Singomoyo merupakan salah satu tokoh masyarakat pada zaman Kerajaan Majapahit yang kebetulan sudah memeluk Islam.

Baca juga : Menelusuri Pesantren Giri Kedaton, Jejak Peradaban Islam di Jawa Timur

Tumenggung Satim Singomoyo bersama 2 orang santrinya, Raden Husen dan Immamuddin Sofari yang membantu mengajak warga Majapahit untuk memeluk Islam yang awalnya Syekh Jumadil Kubro merasa kesulitan dalam mengembangkan ajaran Islam di tanah Jawa.

Awalnya sumur tersebut tidak berbentuk bulat, melainkan persegi, dan terbuat dari batu bata merah yang kelamaan hancur, dan kemudian direnovasi ulang. Para peziarah meyakini bahwa sumur tersebut memiliki khasiat yang banyak dan dapat memberi berkah bagi yang meminumnya. Selain itu ada juga yang percaya bahwa jika meminum air dalam sumur tersebut dapat mendatangkan ketentraman batin. Untuk khasiat air dari sumur sendiri bisa bermacam – macam, tergantung niat dan ikhtiarnya kepada Tuhan, sesuai dengan keyakinan masing – masing.

Reporter : Masning Salamah

Sumber : Makam Syekh Jumadil Qubro – Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Mojokerto

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini