Thursday, September 29, 2022
spot_img
spot_img

Perempuan Menolak Lamaran, Bagaimana dalam Hukum Islam?

Jakarta, Aktualiti.com- Dalam hubungan asmara, setiap pasangan menginginkan tujuan akhir cintanya menuju ke jenjang yang lebih serius yakni pernikahan. Tidak  mengherankan jika proses ini membutuhkan waktu dan perencanaan yang cukup matang. Hal ini bukan sekedar prosesi pernikahan semata, melainkan bagaimana membangun konsep ibadah rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah. Yakni gambaran rumah tangga yang dilandasi cinta dan kasih sayang menuju ketentraman dan keharmonisan yang selalu didambakan kebanyakan orang. Bukankah begitu sahabat Aktual?

Namun, bangunan asmara tidak melulu dibangun oleh dua insan yang saling jatuh cinta. Adapula yang dijodohkan dengan berbagai alasan, hal ini tentu menjadi sebuah keresahan tersendiri terlebih kepada perempuan. Lalu bagaimana jika orang yang dicintainya tidak menginginkan hubungan yang lebih serius, bolehkan sebagai perempuan kita menolak ajakan menikah? Bagaimana hukumnya dalam Islam?

Itulah pertanyaan umum yang selalu terlontarkan di dalam masyarakat. Tidak semua hubungan asmara berakhir dalam pelaminan, adapula yang gagal karena restu orang tua, perbedaan keyakinan, jarak, ketidakcocokan dan lain sebagainya. Meski demikian, isu yang berkembang di masyarakat seringkali melemahkan perempuan bahwa konsep yang dibangun perempuan tidak boleh menolak lamaran. Selain alasan budaya, perempuan yang menolak lamaran selamanya tidak ada laki-laki yang datang menginginkannya.

Perlu kita pahami bahwa menerima lamaran (pinangan) pernikahan artinya menerima menjalani hidup bersama dengan orang lain sampai akhir hayat, sehingga memerlukan pertimbangan dan penerimaan utuh. Dengan demikian, perempuan memiliki hak penuh untuk menerima dan menolak lamaran siapapun. Dalam pilar pernikahan, proses pernikahan dimaknai sebagai relasi zawaj atau kemitraan. Relasi ini hanya mungkin jika masing-masing masuk di dalamnya dengan penuh penerimaan.

Artinya, sebelum masuk pernikahan perempuan maupun laki-laki memiliki hak penuh untuk menolak dan mundur dari rencana pernikahan. Dalam satu hadist (Sunan Ibn Majah, : 147 dan Subab al-Nasa’i : 3282) disebutkan bahwa seorang perempuan lebih berhak memutuskan dengan siapa ia menikah, dibanding ayahnya.

Dijelaskan pula dalam fiqh keluarga, Islam juga memiliki konsep khuluk yang jelas, yaitu perempuan menginisiasi perceraian. Istri Tsabit bin Qays al-Khazraji r.a. datang mengadu kepada Nabi Saw. bahwa ia ingin bercerai dari suaminya, sekalipun ia tahu suaminya baik dalam segala hal. Nabi SAW. mengizinkannya dengan cara khuluk, yakni mengembalikan mahar yang diberikan Tsabit kepadanya (Shahih al-Bukhari: 5328).

Jelas bahwa penjelasan diatas perempuan memiliki dirinya secara utuh untuk tidak menerima lamaran siapapun. Hal ini sama sekali tidak berdosa dan tidak melanggar etika apa pun dalam hukum Islam. Wa Allah a’lam.

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini