Friday, October 7, 2022
spot_img
spot_img

Ziarah Kubur, Tradisi Lama dengan Sentuhan Dakwah Islami

Jakarta, Aktualiti.com – Tradisi ziarah kubur merupakan tradisi yang sudah ada sejak lama di Indonesia.

Perkembangannya dipengaruhi oleh agama Islam, terutama kehadiran Wali Songo yang merupakan orang pertama yang mengembangkan tradisi ini.

Tradisi ini sebenarnya sudah ada sejak kerajaan Hindu Budha. Tetapi setelah datangnya agama Islam, tradisi ini kemudian diberikan sentuhan yang sesuai dengan ajaran Islam.

Masyarakat Jawa akan menganggap bahwa makam merupakan locus suci dan penting bagi masyarakat Jawa. Sehingga masyarakat Jawa tidak akan terlepas dari adanya tradisi ziarah kubur.

Baca juga : Menyelami Islam Kejawen, Sebuah Akulturasi Budaya Lokal dan Agama

Tradisi ziarah kubur tidak hanya sebagai bentuk penghormatan masyarakat Jawa kepada leluhurnya. Tetapi juga sebagai cara untuk memperoleh pangestu dari para leluhur dalam menjalani kehidupan.

Kegiatan ziarah yang diajarkan oleh agama Islam dari tidak banyak mengubah tradisi ziarah masyarakat sebelumnya. Perubahan pokok yang dilakukan hanya pada tataran niat dan tujuan dari ziarah.

Jika awalnya ziarah ditujukan untuk meminta kepada para arwah yang dipercaya memiliki kekuatan, dirubah untuk mengingat mati, akhirat dan mendoakan para jenazah yang telah dikuburkan di makam tersebut.

Ziarah merupakan tindakan mendatangi kubur kapan pun untuk memohon rahmat Tuhan bagi orang yang dikuburkan di dalamnya dan sebagai peringatan supaya orang yang hidup dapat mengingat akan mati dan nasib di kemudian hari.

Selain itu, ziarah tidak hanya bermakna mengunjungi pemakaman saja, tetapi juga terdapat sebuah niat untuk mendoakan dan mengambil pelajaran dari kegiatan ziarah tersebut.

Ziarah kubur memiliki makna eskatologis mengenai tujuan akhir hidup manusia. Sehingga ziarah kubur menjadi momentum mengingat akhir kehidupan.

Ziarah kubur juga merupakan perilaku beragama yang sangat penting di semua pelosok dunia Islam, serta berdasarkan ajaran Islam. Sehingga ziarah kubur tidak hanya dapat dilihat dari satu sudut pandang saja, melainkan berbagai sudut pandang.

Ziarah kubur dapat menunjukkan sisi kesalehan, penonjolan identitas keIslaman, bahkan juga sisi komersial yang dibalut dalam tradisi ziarah itu sendiri.

Dalam sejarahnya, awalnya tradisi ini dilarang oleh Nabi Muhammad SAW. Karena pada saat itu akidah umat Islam belum kuat. Sehingga ada kekhawatiran jika ziarah kubur malah dijadikan sebagai permohonan kepada arwah orang yang sudah meninggal dan penyembahan terhadap arwah leluhur.

Baca juga : Menyelami Islam Kejawen, Sebuah Akulturasi Budaya Lokal dan Agama

Akan tetapi setelah akidah umat Islam semakin kuat, Nabi Muhammad mulai memperbolehkan umatnya untuk melakukan ziarah kubur.

Hal tersebut juga menjadi pembuka tradisi ziarah kubur bagi umat Islam di tempat lain, terutama di Nusantara. Tradisi tersebut merupakan suatu tradisi yang normal dilakukan, tidak hanya berziarah kepada leluhur, tetapi juga kepada orang – orang yang dihormati.

Hal itu dibuktikan dengan tradisi ziarah wali yang semakin sering dilakukan. Jika di masa lalu, berziarah ke makam para wali hanya pada saat – saat tertentu saja, saat ini kapanpun akan selalu ramai para peziarah di makam – makam para wali.

Makam – makam yang sering dikunjungi oleh umat muslim di Indonesia Indonesia adalah makam para wali, kyai, raja atau mereka yang dianggap memiliki pengaruh kuat dalam masyarakat.

Para wali, kyai, ulama, raja merupakan tokoh – tokoh yang dianggap memiliki kekuatan kharisma dari dalam diri mereka. Karisma yang mereka miliki mampu untuk mempengaruhi masyarakat di sekitar. Tanpa adanya kharisma seorang wali, tentu akan kesulitan dalam menciptakan pengaruh yang mendalam bagi masyarakat.

Reporter: Masning Salamah

Editor : M Nur Habib

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini