Monday, December 5, 2022
spot_img
spot_img

Fakta Kerusuhan Sepakbola, Ternyata di Indonesia Kekurangan Petugas Keamanan Berstandar FIFA

Jakarta, Aktualiti.com – Jatuhnya ratusan korban kerusuhan suporter sepakbola di Kanjuruhan Malang menimbulkan berbagai polemik salah satunya sistem keamanan pertandingan sepakbola.

Ternyata, di Indonesia masih kekurangan orang atau sumber daya manusia (SDM) yang ahli di bidang keamanan atau safety and security oficcer berlisensi FIFA.

Petugas Keamanan atau Safety Officer merupakan hal yang penting dalam perangkat pertandingan untuk berusaha agar pertandingan berjalan aman, nyaman,dan menyenangkan secara langsung di stadion.

Viola Kurniawati seorang figur sepakbola nasional menjelaskan bahwa di Indonesia hanya ada satu nama yang memiliki lisensi FIFA dalam memperhatikan keamanan dan keselamatan pertandingan yaitu Nugroho Setiawan.

“Satu-satunya orang di Indonesia yang punya lisensi FIFA Security Officer dan mengerti safety dan security pertandingan namanya Pak Nugroho Setiawan,” cuitan Viola Kurniawati melalui twitter pribadinya.

Viola menambahkan tentang pengalaman pribadinya bersama Nugroho Setiawan mengenai pemilihan steward dan internal security secara efektif, juga komunikasi persuasif ketika keadaan mulai tidak kondusif.

“Dulu setiap ada high risk match, pak Nug (sapaan Nugroho Setiawan) pasti ada di dalam stadion. Bahkan bukan hanya hari H, tapi dari hari-hari persiapan sebelumnya. Beliau intens komunikasi dengan polisi setempat mulai dari polres hingga Polda, ikut rakor dan memastikan sekuriti internal panpel siap,” tulis Viola.

Dalam konsepsi safety officer pertandingan besar atau rivalitas yang tinggi disebut High Risk Match. Dalam hal ini, pertandingan Arema dan Persebaya masuk ke dalam kategori High Risk Match.

High Risk Match adalah sebuah pertandingan dengan kecenderungan besar dalam memunculkan gesekan saat ataupun setelah pertandingan berlangsung seperti rivalitas antar klub atau ketegangan antar suporter.

Dalam mencegah kerusuhan suporter agar tidak meluas dan menimbulkan korban jiwa yang lebih banyak, perlu adanya kesamaan persepsi tentang safety and security antar perangkat pertandingan, operator liga, panpel, PSSI, dan pihak kepolisian.

“Harus ada kesamaan persepsi tentang safety and security pada suatu pertandingan karena stakeholdernya banyak”, menurut Nugroho Setiawan.

Reporter: Rizki Muhammad Ramadiansyah

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
9FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini