Thursday, September 29, 2022
spot_img
spot_img

Promo Miras Pakai Simbol Agama, Bos Holywings Harus Tanggung Jawab?

Jakarta, Aktualiti.com – Haruskah Bos Holywings harus diperiksa? Blunder promosi yang berujung pada penodaan agama dan UU ITE Holywings baru-baru ini, banyak yang bertanya-tanya apakah hanya cukup permintaan maaf melalui postingan. Faktanya permohonan maaf belum 100 persen menyelesaikan masalah.

Apalagi sampai hari ini, Sabtu (25/6/2022) Holywings masih menjadi trending di salah satu media sosial. Mayoritas netizen memberikan postingan dan komentar negatif. Ditambah lagi setelah permohonan maaf diunggah di akun resmi Holywings (@holywingsindonesia), lebih dari 17 ribu komentar yang hampir seluruhnya menyalahkan, dan bahkan ada yang berupa ledekan.

Kini 6 pegawai Holywings sudah jadi tersangka. Polisi akan mengusut kasus ini hingga tuntas dan membuka kemungkinan adanya tersangka baru.

“Kita terus mendalami motif lain, kenapa menggunakan 2 nama tersebut, sementara masih banyak nama-nama lain,” ujar Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Budhi Herdi Susianto dalam konferensi pers di kantornya, Jl Wijaya I Kebayoran Lama, Jakarta Selatan pada Jumat (24/6/2022).

Baca juga : Promosi Holywings: Kelalaian atau Kesengajaan? 

Kombes Budhi melanjutkan keterangannya, “Tentunya akan terus kami dalami sampai dengan menemukan apa yang sebenarnya menjadi latar belakang mereka (Holywings) menggunakan 2 nama tersebut,” jelasnya.

Beberapa lapisan masyarakat juga tek henti-hentinya turut memberikan kecaman bahkan pada Jumat Malam Gerakan Pemuda Ansor DKI Jakarta tidak hanya melakukan aksi doa bersama namun penyegelan di beberapa Holywings di sekitar jakarta.

Jika sudah begini, haruskah Bos Holywings ikut diperiksa dan bertanggungjawab? Ahli Ekonomi dan Bisnis Perbanas Institute, Prof. Steph Subanigdja menjelaskan dalam keterangannya melalui pesan Whatsapp “Bisa Iya, bisa tidak,” tulisnya.

“Proses mengeksekusi bisa dalam sepengetahuan manajemen bisa juga tidak, tentu kaitannya dalam pekerjaan kreatif,” tulis Prof. Steph dalam melanjutkan penjelasannya.

Di sela-sela pertanyaan, Prof Steph memberikan gambaran objektifnya, “The most dificult for doing business is implementation, itu bahasa pesimisnya, sedangkan bahasa optimisnya, the most challenging in doing business is execution, artinya dalam implementasi banyak personel berinteraksi dan dinamis,” tulisnya.

 

Reporter : Dani Az

Editor : Mochamad Nur Habib

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini