Thursday, September 29, 2022
spot_img
spot_img

Erick Thohir, Anak Pasar yang Jadi Konglomerat

Jakarta, Aktualiti.com – Kisah Erick Thohir, Menteri Badan Usaha Milik Negara, menarik untuk disimak.

Kisah hidup dan perjuangannya sungguh inspiratif. Berasal dari keluarga sederhana dan pedagang pakaian di Pasar Tebet, Erick tumbuh menjadi pengusaha sukses hingga menghantarkannya menjadi pejabat publik.

Konglomerat dengan nilai total kekayaan Rp 2,3 triliun (LKHPN Maret 2022) itu sebenarnya memiliki masa kecil yang memprihatinkan.

Kedua orangtua Erick bukanlah orang kaya. Bahkan, sebelumnya, sang ayah ada seorang perantauan dari Gunung, Sugih, Lampung yang mengadu nasib di Jakarta. Ayah Erick berjualan pakaian milik seseorang yang dikenal ketika tiba di Jakarta.

Baca juga: Jarang Orang Tahu, Menteri Erick Thohir Pernah Hidup Prihatin…

Ketika Erick berusia 10 tahun, ia juga ikut berjualan di Pasar Tebet membantu kedua orangtuanya. Saat itulah Erick sedikit memahami tentang bisnis.

Dari pasar pula Erick mulai mengerti dan memahami tentang keberagaman. Sebab, pasar merupakan tempat berkumpulnya orang dari berbagai latar belakang suku, agama dan profesi.

“Di situlah saya melihat situasi masyarakat yang berbeda dari berbagai kalangan, namanya juga jualan di pasar,” kenang Erick saat berbincang dengan ketua Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Sumantri Suwarno di podcast Obrolan Malam Jumat (OMJ), Kanal YouTube Gerakan Pemuda Ansor.

Anak pasar jadi konglomerat

Sebagian besar masyarkat melihat Erick Thohir adalah anak dari konglomerat Teddy Thohir, salah seorang pemilik Grup Astra Internasional bersama William Soeryadjaya.

Padahal, sebelum orangtuanya menjadi kaya, keluarga Erick tergolong miskin.

Erick mengisahkan bagaimana ayahnya merantau ke Jakarta dari Lampung demi mendapat kehidupan yang lebih baik. Sebab di kampung halamannya, Gunung Sugih, Teddy Thohir hidup dalam kemiskinan.

Di Jakarta, Teddy kemudian mendapat kepercayaan dari seseorang untuk berjualan pakaian hingga akhirnya ia menikah dengan gadis berdarah Sunda-Tionghoa bernama Elizabeth Tjandra (Edna).

Dari pernikahan itu, Teddy dikaruniai anak, yakni Rika Thohir, dan Garibaldi Thohir (Boy Thohir) dan Erick Thohir.

Saat usia 10 tahun Erick sempat ikut berjualan pakaian di Pasar Tebet membantu kedua orangtuanya. Keterampilan bisnis mulai tumbuh dari sana.

Erick juga dididik tentang kedisiplinan. Sang Ayah, Teddy Thohir, merupakan pribadi yang disiplin dan kharimastik. Sikap itu ingin ditularkan kepada anak-anaknya, salah satunya Erick Thohir.

“Kita dari kecil dididik kedisiplinan, dari kecil kita dididik juga punya mental pengusaha, karena beliau atau bapak sangat menginginkan putra putrinya menjadi pengusaha seperti beliau,” kata Erick.

Untuk mendidik kedisiplinan, Sang Ayah menyekolahkan Erick ke SD dan SMP Katolik. Ia memilih sekolah swasta Katolik karena dianggap pendidikan tentang disiplinnya kuat.

“Misalnya, harus memakai sepatu hitam, kaos kaki putih, dan seragamnya tidak boleh dikeluarkan. Kalau telat ke sekolah dipajang di depan,” kenangnya.

Setelah lulus dari SMA Negeri 3 Jakarta, Erick dikuliahkan ke Amerika Serikat. Ia mendapat gelar sarjana dari Universitas Glendale. Kemudian ia melanjutkan studi strata 2 (S2) Program Master untuk Bisnis Administrasi ke Universitas Nasional California dan lulus pada tahun 1993.

Ia kemudian kembali ke Indonesia lalu merintis bisnis bersama teman kuliahnya dengan mendirikan Mahaka Group. Perusahaannya terus berkembang hingga bisa membeli surat kabar Republika pada tahun 2001.

Media itu hampir bangkrut. Namun Erick kemudian mendapat bimbingan dari ayahnya dan dua tokoh media ternama, Jakob Oetama (pendiri Kompas) dan Dahlan Iskan (pendiri Jawa Pos).

Mahaka Group juga mendirikan sejumlah stasiun radio. Beberapa di antaranya adalah Gen FL dan Jak FM. Perusahan Mahaka Group juga menanam saham di PT Radionet Cipta Karya dengan nama radionya Prambors FM, Delta FM dan FeMale Radio.

Ia juga mendiikan perusahaan televisi TVOne dan situs berita Vivanews pada tahun 2008 bersama Anindya Bakrie.

Mahaka Group melebarkan sayap bisnis lain di luar media seperti advertising dan golf.

Selain menjadi Menteri BUMN, Erick juga dinobatkan sebagai Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah periode 2021-2024.

Erick Thohir juga terlibat aktif dalam organisasi kepemudaan Islam. Ia menjadi anggota Banser, bagian dari Gerakan Pemuda Ansor yang merupakan badan otonom milik Nahdlatul Ulama.

Ia ditetapkan menjadi anggota Banser setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar (Diklatsar) Banser pad 28 November 2021.

Bidang Olahraga

Erick Thohir adalah konglomerat Indonesia yang menyukai olahraga. Satu klub sepakbola bergengsi di dunia dibelinya, yakni Inter Milan. Ia juga pemilik klub basket Satria Muda.

Erick memang menyukai olahraga basket. Bahkan ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) periode 2006-2010.

Pada tahun 2008, Erick dipercaya menjadi ketua panitia penyelenggaraan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang.

Erick mengaku tidak menyangka hal itu. Ia juga merasa khawatir setelah Sea Games selesai, akan masuk jajaran pemerintah.

Kekhawatiran itu kemudian terbukti setelah ia diangkat menjadi Menteri BUMN Kabinet Indonesia Maju yang dilantik oleh Presiden Joko Widodo pada 23 Oktober 2019.

Harta Kekayaan dan Perusahaan Erick Thohir

Berdasarkan LKHPN Maret 2022, jumlah kekayaan Erick sebesar Rp 2,3 triliun

Terdiri dari:

1. 34 aset yang mencakup tanah, bangunan, serta tanah dan bangunan, 34 aset yang terdiri dari tanah, bangunan, serta tanah dan bangunan yang tersebar di Depok, Bekasi, Badung, Pasuruan, Jakarta Selatan, Bogor, Tangerang, Manggarai Barat, hingga Jakarta Pusat.

Aset-aset tersebut dengan harga variatif mulai dari yang termurah senilai Rp 650 juta hingga yang termahal seharga Rp 60 miliar. Bila dijumlahkan, nilai seluruhnya mencapai Rp 364.201.100.000.

2. Dua unit mobil, yakni Mercedes Benz W108280S tahun 1969 senilai Rp 110 juta dan Mercedes Benz S400L tahun 2016 seharga Rp 1,760 miliar serta satu unit motor Honda NF125TR tahun 2011 senilai Rp 6,5 juta. Nilai seluruh kepemilikan transportasi itu mencapai Rp 1.876.500.000.

3. Harta bergerak lainnya senilai Rp 27.996.250.000.

4. Surat berharga Rp 1.722.549.424.100

5. Harta bergerak lainnya Rp 159.200.899.207.

6. Erick Thohir tercatat memiliki utang sekitar Rp 165.952.084.147.

Kalau ditotal kekayaan menjadi Rp 2.319.242.458.655.

Daftar perusahaan milik Erick Thohir:

1. PT Avabanindo Perkasa (Mahaka Advertising)

Mahaka Advertising merupakan perusahaan yang dimiliki Erick Thohir dan fokus pada layanan jasa periklanan seperti billboard, jembatan penyeberangan orang (JPO), bando jalan, dan neon box. Selain itu, Mahaka Advertising juga biasa menerima jasa iklan menggunakan baliho dan umbul-umbul.

Perusahaan yang berdiri tahun 1994 juga telah bekerja sama sebagai mitra periklanan di stasiun-stasiun MRT Jakarta. Dengan kerja sama tersebut, PT Avabanindo Perkasa bakal menjadi pengelola iklan selama 20 tahun.

2. PT Republika Media Mandiri (Harian Republika dan Republika Online)

Republika merupakan perusahaan media jurnalistik yang berdiri sejak tahun 1992. Media-media yang berada di bawah PT Republika Media Mandiri yaitu Harian Republika dan Republika Online.

Saat ini Republika merupakan media multiplatform dalam bentuk koran, portal berita, newsroom, koran elektronik, majalah digital, media sosial, dan aplikasi digital.

3. PT Danapati Abinaya Ivestama (Jak TV)

Selain media jurnalistik, Erick Thohir juga memiliki Jak TV melalui perusahaannya PT Danapati Abinaya Investama. Perusahaan yang berdiri sejak tahun 2005 ini awalnya dimiliki Jawa Pos Group.

Namun, pada 2010, Jak TV diakuisisi perusahaan Erick Thohir dengan nilai akuisisi mencapai Rp55,5 miliar atau 50 persen saham.

4. PT Kalyanamitra Adhara Mahardhika (Alive! Indonesia)

PT Kalyanamitra Adhara Mahardhika merupakan perusahaan Erick Thohir yang menyediakan layanan brand activation, creative agency, hingga event organizer. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2007.

Baca juga: Gus Yahya Beberkan Program NU yang Akan Bikin Pengurus Sibuk

Berbagai event besar telah ditangani Alive! Indonesia. Mulai dari New Honda Vario Launching Exhibition, BRI Exhibition, XL Exhibition, hingga Launching Honda New CBR. Mahaka Media, Tbk. mengakuisisi 80 persen saham Alive! Indonesia senilai Rp 3,7 miliar.

5. PT Media Golfindo (Golf Digest Indonesia)

Golf Digest Indonesia menjadi media yang menyajikan informasi-informasi seputar golf sekaligus mengedukasi para pegolf Indonesia. Selain sebagai media, PT Media Golfindo juga menjadi penyelenggara event organizer golf.

6. PT Mahaka Radio Integra, Tbk

Melalui PT Mahaka Radio Integra, Erick Thohir juga memiliki beberapa perusahaan radio yaitu PT Radio Attahiriyah (Gen 98.7 FM Jakarta), PT Radio Camar (Gen 103.1 FM Surabaya), dan PT Suara Irama Indah (Jak 101 FM). (Farid Riadh Siddik, Dani Azkiyak)

 

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini