Friday, September 30, 2022
spot_img
spot_img

Gus Dhofir: Kyai Milenial Filsuf Intelektual

Jakarta, Aktualiti.com – Akrab disapa Gus Dhofir. Kyai milenial ini bernama Achmad Dhofir. Dia cukup terbilang vokal dalam merespons isu-isu kebangsaan dan keagamaan.

Gaya dakwahnya pun sungguh unik. Gus Dhofir memasukkan “bumbu” filosofis di setiap kajiannya. Ditambah, gaya bahasa yang sederhana, membuat apa yang dikeluarkan olehnya sangat “renyah” disantap.

Baca Juga : Sekjen MUI Sebut Indonesia Bisa “Oleng” Jika Tak Ada Pancasila

Tak terkecuali, otoritasnya pada ilmu usuluddin dan filsafat. Acapkali, kritiknya dibangun dengan paradigma integrasi kedua poros tersebut. Filsafat yang dijauhi oleh mayoritas pondok salaf, oleh Gus Dhofir, diajak dalam visi dakwah untuk kemaslahatan umat.

Tak hanya itu, Gus Dhofir merupakan filsuf intelektual yang kritis. Beliau memiliki semangat dalam mengajak masyarakat untuk bangkit dari kesadaran dogmatis, menuju kesadaran kritis dalam menjalani semua aspek kehidupan.

Biografi

Achmad Dhofir bin Zuhry bin Mahmud, anak kedua dari lima bersaudara, lahir di Malang-Jawa Timur, 27 Rajab 1404 H/27 April 1984, sedangkan ibunya bernama Siti Masmuidah.

Mengutip dari bukunya “Peradaban Sarung”, pendidikannya terseok-seok sejak akhir dekade 80-an di TK dan MI Azharul Ulum II sembari berkhidmat di madrasah diniah Darut Tauhid, pesantren Assa’idah Malang dan pesantren Nurul Jadid Probolinggo sampai awal abad 21.

Belajar di  Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkasa Jakarta, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Universitas Indonesia Depok, Universitas Islam Asy-Syafi’iyah Jakarta, Universitas Pancasila Jakarta, University of Malaya Kuala Lumpur dan University of Queensland St Lucia.

Kiprah dan Kontribusi

Dari pengembaraan belajarnya, dapat dipahami kalau Gus Dhofir adalah pribadi yang bebas, selalu ingin tahu, dan selalu ingin menambah wawasan. Kiprah dan kontribusinya di kancah internasional, antara lain:

  1. Mengadakan program kerja bersama pelajar muslim se-Asia ke Luzon dan Mindanao, Filipina.
  2. Menghandiri interfaith dialoge di Brunai Darussalam.
  3. Mengiringi program penanggulangan korban penyalahgunaan narkoba di Srilanka.
  4. Mengikuti Training Workhsop on Enhanching Life Skills for Pesantren-Based Drug Prevention yang diadakan oleh Bureau for International Narcotics and Law Eforcement Affairs (INL) US Departement of State, Amerika Serikat.
  5. Menjejaki Pertemuan Sufi dan Ilmuwa se-Dunia (Al-Mu’tamar ad-Dauli lil Ulama’ wal-Mutsaqqafin al-Muslimin).
  6. Juga diundang sebagai tamu kehormatan pada Frankfrurt Book Fair, tahun 2015 di Jerman.

Sementara kiprah dan kontribusinya di kancah nasional, adalah:

  1. Mendirikan Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al-Farabi, Kepanjen, Malang, satu-satunya (pionir) sekolah tinggi khusus filsafat pada waktu itu, khususnya di Malang. Nama sekolah tinggi tersebut terispirasi dari nama tokoh filsuf, sekaligus penemu alat musik keyboard: Abu Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Farabi.
  2. Mendirikan Pondok Pesantren Luhur Baitul Hikmah dan Madrasah Diniyah Mubtada’ Khabar juga mengasuh luhurian.or.id.
  3. Menjadi Pengurus Dewan Kesenian Kabupaten Malang, Anggota Lembaga Sensor Film Indonesia Malang dan Ketua Forum Pemuda Lintas Agama Malang.

Karya Akademik

Kegigihannya menuntut ilmu itu membuahkan hasil. Beberapa karyanya yang telah terbit (tidak termasuk artikel-artikel ringan di media massa), yakni:

  1. Gereja Di Padang Mahsyar (2003)
  2. Tersesat di Jalan Yang Benar (2007)
  3. Terjemah Shalawat Haji: Tahni’ah Li Quduni Hujjaj Bayt al-Haram (2005)
  4. Tafsir az-Zuhry Vok. I (2005)
  5. A’malul Yaumiyah (2010)
  6. Para Nabi dalam Botol Anggur (2011)
  7. Barisan Hujan (2013)
  8. Membangun Negara Hukum yang Bermartabat (2014)
  9. Presiden (2012)
  10. Mencangkul di Yunani (2012)
  11. Filsafat Islam (2013)
  12. Terjemah Risalah Ladunniyah Al-Ghazali (2015)
  13. Matahari Tumbuh Dari Senyummu (2013),
  14. Memanusiakan Manusia (2009)
  15. Filsafat Timur: Sebuah Pergulatan Menuju Manusia Paripurna (2011)
  16. Filsafat Untuk Pemalas (2016)
  17. Kondom Gergaji (2018)
  18. dan Peradaban Sarung (2018)

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini