Friday, October 7, 2022
spot_img
spot_img

Ranggawarsita, Santri Nyeleneh Pujangga Terakhir Tanah Jawa

Jakarta, Aktualiti.com – Ranggawarsita atau Raden Ngabehi Ranggawarsita bernama asli Bagus Burhan, merupakan pujangga besar dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Ranggawarsita lahir pada Senin Legi, 10 Zulkaidah 1728 Saka atau 25 Maret tahun 1802 Masehi di Kampung Yasadipura, Surakarta, dan wafat pada tahun 1873.

Ranggawarsita lahir pada masa kejayaan pemerintahan Pakubuwono IV. Ranggawarsita juga merupakan keturunan bangsawan, sastrawan, sekaligus kapujanggan.

Kakek dari ayah Ranggawarsita yaitu Yasadipura II, pujangga utama Surakarta pada masanya. Dari garis ibu, Ranggawarsita masih keturunan dari Tumenggung Sujanaputra, pujangga Kesultanan Pajang.

Baca juga : Raden Patah, Pendiri Kesultanan Demak yang Akrab dengan Para Wali

Banyak anggapan yang menyebut bahwa Ranggawarsita merupakan pujangga terakhir tanah Jawa. Hal tersebut karena setelah meninggalnya Ranggawarsita, belum ada sastrawan lain yang bisa menyamai atau mengunggulinya.

Masa kecil Ranggawarsita dididik langsung oleh Yasadipura II, dan kakek buyutnya Yasadipura I saat itu juga masih hidup. Konon Yasadipura I juga lah yang meramalkan bahwa Ranggawarsita akan menjadi pujangga terakhir Jawa.

Karena tumbuh dari kalangan yang mementingkan pendidikan, Ranggawarsita akhirnya tumbuh menjadi remaja yang haus ilmu. Ranggawarsita melakukan pengembaraan menuntut ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain.

Salah satunya, Ranggawarsita merupakan seorang santri yang belajar di Pondok Pesantren Gebang Tinatar, Tegalsari, Ponorogo, yang dipimpin oleh Kiai Imam Besari, cucu dari Pakubuwono IV.

Ranggawarsita memang tidak terkenal sebagai santri nasionalis, melainkan seorang pujangga Solo yang turut menentukan arah identitas, mentalitas, estetika, dan intelektualitas di Indonesia.

Baca juga : Kisah Pangeran Sambernyawa, Kesatria Cerdas yang Ditakuti VOC

Saat menjadi santri, Ranggawarsita dianggap malas belajar ilmu agama dan bahasa Arab, hal tersebut merupakan efek buruk yang dimilikinya sebagai bangsawan.

Ranggawarsita lebih memilih plesiran dan berjudi. Sehingga dianggap sebagai santri bandel, yang kebandelannya turut mempengaruhi teks – teks sastra gubahannya.

Akan tetapi, kebandelan tersebut tidak berlangsung lama, karena Kiai Imam Besari memberinya ta’zir berupa puasa 40 hari dengan buka puasa satu pisang dan setiap malam hari harus munajat tidak boleh tertidur. Karena upaya itulah akhirnya terdapat perkembangan dalam diri Ranggawarsita.

Ranggawarsita memang menulis ajaran – ajaran Islam dalam teks sastra, tapi jauh jika dibandingkan dengan ulama.

Terdapat pandangan bahwa Ranggawarsita memang seorang santri, tetapi santri beraksara Jawa dan Latin, bukan santri beraksara Arab.

Karya – karya Ranggawarsita seperti melintasi zaman. Karena dianggap masih relevan hingga saat ini. Tak hanya syairnya yang melintasi zaman, tapi juga banyak yang meyakini kebenarannya.

Karya – karya dari Ranggawarsita antara lain, Sapta Dharma, Serat Aji Pamasa, Serat Candrarini, Serat Cemporet, Serat Jaka Lodang, Serat Jayengbaya, Serat Kalatidha, Serat Panitisastra, Serat Pandji Jayeng Tilam, Serat Paramasastra, Serat Paramayoga, Serat Pawarsakan, Serat Pustaka Raja, Suluk Saloka Jiwa, Serat Wedaraga, Serat Witaradya, Sri Kresna Barata, Wirid Hidayat Jati, Wirid Ma’lumat Jati, dan Serat Sabda Jati.

Reporter: Masning Salamah

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini