Thursday, September 29, 2022
spot_img
spot_img

Perlukah Islah Politik NU dengan PKB?

Jakarta, Aktualiti.com – Pengamat politik Adi Prayitno, menyebutkan kemungkinan islah politik antara Nahdlatul’ Ulama (NU) dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) terkait hubungan keduanya yang memanas akhir-akhir ini.

Menurut Direktur Eksekutif Parameter tersebut, hubungan yang memanas antar kedua belah pihak membuat dilema warga NU baik di level struktural maupun kultural.

“Saya pikir ini dilematis, banyak pengurus NU yang juga mengurus PKB. Ini adalah irisan dan tarikan politik yang tidak mudah,”

“Kedepan, harus ada islah politik antara NU dengan PKB,” ungkap Adi, dalam wawancara bersama CNN Indonesia, selasa (24/05) kemarin.

Terkait islah politik, Adi Prayitno menyebutkan bahwa hal tersebut menjadi penting untuk kondusifitas warga NU tersendiri.

“Islah politik semisal mengurangi perang urat syaraf di dunia maya antara ketum PBNU dengan ketum PKB. Ini penting untuk menjaga kondusifitas dan suasana batin warga NU secara umum,”

Pengamat politik tersebut juga mengingatkan agar PKB tidak boleh lupa terhadap peran besar NU.

“Apapun judulnya, PKB adalah partai yang lahir dari NU. PKB bisa besar karena basis kultural warga NU cukup solid,”

Adi menambahkan, hubungan yang memanas antar kedua pihak bisa saja semakin memperburuk keadaan.

“Kalau elitnya saling sindir, saya khawatir bukan hanya terbelah namun akan membingungkan warga NU kedepan. Karena parpol lain belum tentu cocok dengan suasana batin warga NU. Hubungan ini buruk untuk keduanya,” tambah Adi.

Disinggung soal kemungkinan rekonsiliasi dan islah politik, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Rahmat Hidayat Pulungan menyebutkan belum ada tanda dari Muhaimmin Iskandar untuk sowan ke kantor PBNU.

Rahmat juga menyebutkan bahwa terdapat beban yang berbeda antara Yahya Cholil Staquf sebagai ketua umum PBNU dengan Muhaimmin Iskandar sebagai ketua umum PKB.

“Yang harus diingat, Pak Muhaimmin memikirkan NU pada aspek pemberdayaan politik. Gus Yahya memikirkan NU dalam semua aspek. Beban keduanya berbeda.”

“Beban Gus Yahya semakin berat karena memimpin NU memasuki abad kedua. Apa yang dipikirkan oleh Gus Yahya sangat kompleks. Kita tidak boleh memaksakan Gus Yahya hanya berpikir parsial dalam urusan politik saja,” pungkas Rahmat.

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini