Thursday, September 29, 2022
spot_img
spot_img

Mengenal Chickin Indonesia, Start Up Budidaya Unggas Pertama di Asia Tenggara

Jakarta, Aktualiti.com – Chickin Indonesia merupakan perusahaan rintisan pertama di Asia Tenggara yang memiliki fokus pada pengembangan dan pembudidayaan unggas.

Seperti yang telah disebutkan oleh Forbes, Chickin Indonesia dinilai sebagai startup teknologi unggas pertama di Asia Tenggara, dan telah berdampak pada peningkatan pendapatan bagi ratusan peternak unggas. Chickin diketahui telah bermitra di beberapa perusahaan di Jawa Tengah seperti Japfa, Charun Pokphand, CJ group, dan 14 rumah potong hewan lainnya.

StartUp yang menjuarai Pertamuda Seed & Scale yang diadakan oleh Pertamina ini dipimpin oleh Ashab Alkahfi (Co-Founder & President), Tubagus Syailendra (Co-Founder & Chief Executive Officer), Ahmad Syaifullah (Co-Founder & Chief Technology Officer).

Lebih hebatnya lagi, StartUp ini telah memperoleh pendanaan tahap awal dari East Ventures dan beberapa investor lain, dengan nominal yang masih dirahasiakan.

Chickin sendiri memiliki tujuan untuk mendemokratisasikan industri perunggasan dengan memanfaatkan dan mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) dan manajemen data untuk meningkatkan pendapatan peternak dengan menghemat biaya pakan melalui pengendalian iklim.

Selain itu, Chickin menyediakan pembiayaan dalam input peternakan serta saluran untuk menjual ayam berkualitas tinggi kepada pelanggan business-to-business (B2B) melalui transparansi data (pencocokan pasokan-permintaan), di mana biasanya terdapat kemungkinan besar ketidaksesuaian yang mengakibatkan masalah pada ketersediaan dan kualitas pasokan di industri perunggasan.

Berbekal pengalaman terlibat dalam membudidayakan ayam sebagai peternak dalam 5 tahun terakhir, Chickin ingin memberikan inovasi berupa efisiensi budidaya ayam melalui sistematisasi siklus panen dan konsumsi ayam dengan memanfaatkan kemajuan teknologi.

Chickin memberikan solusi teknologi berupa software berbasis cloud bagi para peternak, memungkinkan mereka melakukan manajemen budidaya yang efektif dengan dashboard monitoring, transparansi pengawasan ternak, dan alat manajemen kandang.

Selain itu, Chickin juga memproduksi hardware dengan integrasi IoT dalam menciptakan FCR (Food conversion ratio) yang optimal. Hardware tersebut memungkinkan penyesuaian dan pengaturan iklim yang cocok untuk ayam dalam memastikan peningkatan produktivitas.

Baca juga : Harga Mobil Listrik di Indonesia

“Semua alat ini diciptakan seefisien mungkin, terjangkau oleh para peternak, dan mudah digunakan. Kami memiliki tujuan besar untuk menciptakan ketahanan pangan dalam konsumsi ayam broiler di Indonesia,” kata Ahmad dalam keterangan resmi, Jumat (15/7/2022).

“Keunggulan aplikasi yang kami ciptakan adalah membantu peternak unggas agar dapat meningkatkan pendapatan mereka hingga 25 persen. Aplikasi yang kami gagas ini juga memungkinkan peternak menjual ayam dengan harga lebih tinggi,” ungkap Ashab

Ashab menyadari bahwa saat ini ayam potong menjadi salah satu komoditas yang tak pernah absen di pasaran. Namun ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran selama ini muncul akibat panjangnya rantai pasok dari peternak hingga end user. Karena itu, Chickin juga membuat teknologi manajemen kandang untuk menjawab kebutuhan yang ada di sektor peternakan ayam

“Kami berupaya untuk meningkatkan produktivitas peternak ayam dan mendorong kebutuhan konsumsi ayam pedaging masyarakat. Jadi kami juga membantu peternak menjual hasil panennya,” ujarnya.

Ashab berterimakasih atas semua bantuan hingga Chickin mencapai berbagai prestasi hari ini. Terutama bantuan dari Pertamina melalui program Pertamuda Seed and Scale

“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kami, termasuk Pertamina. Dukungan Pertamina sangat impactful. Dari situ kami bisa berkembang lagi dan mendapat investor, dan itu sangat membantu Chickin dalam perjalanannya,” jelasnya.

Atas kerja kerasnya ini, kedua Co-Founder Chickin Indonesia yakni Ashab Alkahfi dan Tubagus Syailendra masuk ke dalam Forbes 30 under 30 Indonesia.

Fajriyah Usman, Vice President Corporate Communication PT Pertamina berharap generasi muda dapa menjadi generasi yang melek potensi digital economy, sehingga mampu menciptakan berbagai lapangan usaha baru dan mmapu meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui inovasi berdasarkan ilmu yang sudah didapatkan di jenjang pendidikan.

“Pertamina, dalam upaya mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDG’s) khususnya di poin 4 yakni Pendidikan yang berkualitas bagi seluruh warga negara Indonesia serta poin 8, mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi dari aspek kewirausahaan, menggerakkan generasi muda Indonesia untuk mendorong tumbuhnya startup dari berbagai kampus, yang selanjutnya dapat meningkat menjadi unicorn. Sebagaimana yang digaungkan oleh Kementerian BUMN yang mendorong seluruh BUMN turut andil melahirkan unicorn-unicorn muda Indonesia,” Pungkas Fajriyah.

Editor : Mochamad Nur Habib

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini