Monday, September 26, 2022
spot_img
spot_img

Sengkarut ACT: Polisi Menduga ACT Menilep Dana Ahli Waris Korban Pesawat Lion Air

Jakarta, Aktualiti.com – Sudah sepekan lebih salah satu lembaga filantropi raksasa, yaitu Aksi Cepat Tanggap (ACT) menjadi perbincangan lantaran diduga kuat melakukan berbagai penyelewengan dana umat yang terkumpul.

Baru-baru ini, polisi menduga ACT menilap ahli waris korban pesawat Lion Air nomor penerbangan JT-610 yang jatuh pada 29 Oktober 2018.

Kombes Pol Nurul Azizah, Kabag Penum Divisi Humas Polri dalam keterangannya di You Tube CNN pada Senin, 11 Juli 2022 mengatakan, “Pada kenyataannya pihak Yayasan Aksi Cepat Tanggap tidak memberitahukan realisasi jumlah dana CSR yang diterima dari pihak Boeing kepada ahli waris korban termasuk nilai serta proses pekerjaan yang dikelola oleh Yayasan ACT.”

Baca juga : Buntut Dugaan Penyelewengan, Izin ACT Resmi Dicabut

Kombes Pol Nurul Azizah melanjutkan penjelasannya bahwa sebagian dana CSR tersebut, dimanfaatkan untuk pembayaran gaji ketua, pengurus, kemudian pembina serta staf dan juga digunakan untuk mendukung fasilitas serta kepentingan pribadi ketua pengurus atau presiden yang kala itu dijabat Ahyudin dan Vice President, Ibnu Khajar.

Saat ini status ACT masih dalam penyelidikan, karena pada Senin Malam, 11 Juli 2022, akan dilakukan gelar perkara.
Perlu diketahui,

Merujuk pada hasil investigasi Tempo pada 3 Juli 2022 lalu, ACT mendapatkan dana sekitar Rp 135 miliar dari Boeing untuk membangun 91 sekolah.

Lokasi pembangunan sekolah sendiri ditentukan oleh keluarga korban. Dana dari Boeing sudah cair sejak Januari 2022.

Namun diduga dana dari Boeing tidak digunakan dengan benar. Misalnya, Pembangunan Madrasah Tsanawiyah Persis Tanjungsari di kompleks Pesantren Persatuan Islam di Desa Sukaresik, Tasikmalaya, Jawa Barat tidak sesuai dengan perencanaan.

Neuis Marfuah, 51 tahun, ibu Vivian, bercerita, keluarganya meminta supaya duit dari Boeing digunakan untuk membangun perpustakaan dan laboratorium. Ia juga meminta agar di lokasi pesantren milik keluarga itu dibuat lapangan basket. Proyek itu rampung pada Desember 2021.

Neuis menilai pembangunan itu dilakukan asal-asalan dan menggunakan bahan yang berkualitas rendah.

“Masak, ruang komputer tidak ada colokan listriknya?” katanya dalam keterangan investigasi Tempo. Pun bukan lapangan basket yang dibangun, melainkan lapangan voli. “Saya minta ACT memperbaiki. Kalau tidak, saya laporkan ke Boeing,” ujarnya lagi.

Maret lalu, para tukang bangunan kembali datang ke Pesantren Persatuan Islam Sukaresik. Mereka memperbaiki bangunan kelas dan membangun lapangan basket.

Reporter : Dani Az

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini