Saturday, October 1, 2022
spot_img
spot_img

Sri Mulyani Bebaskan Biaya Ekspor Seluruh Produk Kelapa Sawit

Jakarta, Aktualiti.com – Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani resmi membebaskan biaya ekspor untuk seluruh produk sawit hingga 31 Agustus 2022. Pembebasan itu dilakukan baik pada tandan buah segar (TBS), biji buah sawit, dan Crude Palm Oil (CPO) dan sed cooking oil.

“Pajak ekspor diturunkan 0 kepada seluruh produk yang berhubungan dengan CPO,” kata Sri Mulyani di sela-sela acara G20, Nusa Dua, Bali, Sabtu (16/7/2022).

Regulasi tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 103/PMK.05/2022 tentang Tarif Layanan Badan Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit pada Kementerian Keuangan. Menjadi PMK 115 tahun 2022.

“PMK ini adalah perubahan atas PMK 103/PMK.05/2022 tentang tarif layanan BLU dana perkebunan sawit menyangkut pajak ekspor yang banyak disampaikan di publik,” katanya.

“PMK ini menurunkan pajak tarif ekspor jadi 0 hingga 30 Agustus 2022. Ini yang biasanya di collect jadi sumber dana BPDPKS untuk stabilisasi harga,” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan setelah 31 Agustus nanti, atau tepatnya 1 September 2022, tarif untuk pungutan sawit akan diberlakukan secara progresif.

“Dalam hal ini CPO rendah tarifnya sangat rendah atau harga naik, ia akan meningkat , dengan tujuan BPDPKS mendapatkan pendanaan untuk melakukan program stabilisasi harga,” jelasnya.

Baca juga : Sudah 3 Tahun Tak Impor Beras, Jokowi: Swasembada Beras Indonesia Segera Terwujud

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu mengatakan pembebasan biaya ekspor ini berguna untuk mempercepat ekspor produk sawit beserta turunannya.

“Kita mau mempercepat ekspor saja. Waktu kemarin terjadi harga yang tinggi, kita mengendalikannya supply dalam negerinya jadi lengkap,” kata Febrio kepada awak media di Bali Nusa Dua International Convention Center, Minggu (17/07/2022).

Hal tersebut juga merupakan salah satu cara untuk menurunkan sawit di harga konsumen. Dengan catatan setelah itu perlu dilakukan penyesuaian ekspor kembali.

“Sebenarnya kemarin sudah jalan juga, pajak ekspornya tinggi sekali di Juni udah bagus dan kami melihat perlu lebih cepat lagi. Jadi kita turunkan aja pungutan ekspor ke 0 hingga akhir Agustus,” jelasnya.

Adapun setelah 31 Agustus nanti tarif ekspor akan mengikuti tarif progresif.

Tarif progresif adalah tarif yang jika harga CPO rendah maka tarifnya akan rendah. Tetapi jika CPO mengalami kenaikan harga maka harga akan naik.

Editor : Mochamad Nur Habib

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini