Friday, September 30, 2022
spot_img
spot_img

Sri Mulyani: RAPBN 2023 Dirancang dengan Optimisme dan Kewaspadaan Penuh

Jakarta, Aktualiti.com – Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani menyatakan Rancangan Anggaran pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2023 dirancang dengan penuh rasa optimis sekaligus kewaspadaan yang tinggi.

“Optimisme dilandasi oleh pemulihan ekonomi hingga triwulan kedua tahun 2022 yang tumbuh mengesankan yaitu 5,44 persen. Tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia ini termasuk yang tertinggi di G20 dan ASEAN,” ujar Sri Mulyani di DPR RI, Jakarta, pada Selasa (30/08/2022).

Pemulihan ekonomi berangsur membaik dengan adanya peningkatan permintaan domestik yaitu permintaan konsumsi yang tinggi. Selain itu, nilai ekspor Indonesia juga menguat akibat permintaan komoditas dan harga yang menguat.

Walaupun inflasi di Indonesia pada Juli 2022 menembus angka 4,94 persen dan melebihi perkiraan sebelumnya yaitu 4 persen, namun angka ini masih di anggap moderat.

Baca juga : Simalakama BBM Subsidi: Mahal Rakyat Teriak, Murah APBN Membengkak

“Kinerja pertumbuhan dan inflasi hingga Semester-I 2022 ini memberikan landasan optimisme,” katanya.

Walau begitu, Sri Mulyani dengan tegas mengatakan Indonesia harus tetap waspada dengan kondisi ekonomi dunia yang tengah diterpa berbagai krisis.

“Namun, kita tetap menjaga kewaspadaan tinggi karena awan tebal dan gelap dalam bentuk inflasi, kenaikan suku bunga, pengetatan likuiditas, dan pelemahan ekonomi di negara-negara maju, serta ketegangan geopolitik bahkan mulai melanda perekonomian di Eropa, Amerika Serikat, dan RRT,” katanya.

Banyak faktor di atas sangat memungkinkan membawa dampak negatif kepada pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Ketidakpastian global kini sudah berimbas pada beberapa negara yang tengah mengalami krisis pangan dan energi akibat gangguan rantai pasokan dunia dan kenaikan berbagai komoditas pokok dunia.

Baca juga : Krisis Pangan Ancam Dunia, Jokowi Perbanyak Alternatif Pengganti Beras

Selain itu, suku bunga yang sangat fluktuatif juga berpotensi menyebabkan gejolak di pasar uang dan permodalan ke luar dari banyaknya negara berkembang.

“Ini berpotensi melemahkan nilai tukar dan memaksa suku bunga disesuaikan ke atas. Dampak rambatan global ini dapat mengancam perekonomiam Indonesia dalam bentuk tekanan harga atau inflasi, pelemahan permintaan, dan juga pelemahan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Sri Mulyani menegaskan RAPBN 2023 harus bisa menjadi shock absorber bagi masyarakat dan perekonomian Indonesia, sekaligus tetap menjada APBN agar tetap seimbang dan sehat.

“Namun pada saat yang sama, konsolidasi fiskal untuk memulihkan dan menjaga kesehatan APBN itu sendiri harus terus dijaga dan dilaksanakan dengan disiplin dan konsisten,” katanya.

Reporter : Ahmad Widyarma

Editor : M Nur Habib

Terkait

terhubung

0FansLike
0FollowersFollow
10FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Terkini